Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Kevin’

oleh Fitrian Muhammad Oddang, Kevin Pradana dan Brama Putra Sriyatno

Ketika kita mendengar kata belajar mungkin sosok pelajarlah yang terbersit di benak kita semua. Seperti apa belajar menurut Anda? Tentunya kita semua memiliki persepsi yang berbeda entah menyenangkan atau mungkin menyebalkan.

Begitu pentingnya belajar bagi kita, di mana pun dan kapan pun. Banyak sekolah-sekolah yang menyediakan fasilitas pendidikan formal baik dari tingkat dasar hingga tingkat atas. Salah satu dari penyedia fasilitas itu adalah SMA Dwiwarna. Seperti apa nuansa belajar di sana dan sudahkah belajar dengan efektif semua akan dibahas di sini.

Berkenaan dengan hal tersebut kami berhasil mewawancarai beberapa narasumber yaitu Ibu Euis Tresna sebagai salah satu staf pendidik dan Rini Mayasari selaku siswa. Berikut adalah kutipan wawancara dengan Ibu Euis.

1.    Menurut Anda seperti apa belajar efektif itu?
Belajar yang efektif adalah belajar yang mampu mengoptimalkan pencapaian target belajar, baik akademis maupun kepribadian. Jadi, dengan waktu yang ada dan tersedia, target-target itu harus bias dicapai dengn memaksimalkan segala instrumen-instrumen pendidikan dan belajar.

2.   Apa saja yang harus dioptimalkan dan dimaksimalkan dalam belajar?
Pertama adalah persiapan guru pengajar dan siswa itu sendiri. Jadi, untuk setiap guru yang akan mengajar sebaiknya telah menyiapkan dan menguasai materi yang akan disampaikan dengan baik, sehingga apa yang disampaikan pada siswa menjadi lebih focus, terarah, dan mudah dipahami. Kemudian untuk siswa harus bisa mengoptimalkan segala alat Bantu belajar sehingga apa yang telah disampaikan oleh para pengajar dapat dengan mudah dicerna dan diingat.

3. Adakah perubahan yang Anda rasakan di semester 2 ini pada kegiatan belajar mengajar?
Sebenarnya ada perubahan yang mungkin ada kaitannya dengan kegiatan Festival Dwiwarna (FDW) 2009 ini yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Hal ini jelas mengganggu, menurut saya pribadi terutama sangat mengganggu dan merugikan waktu belajar siswa.

4.  Perubahan seperti apa yang terjadi dan bagaimana dampaknya?
Tentunya perubahan terlihat pada suasana belajar mengajar di kelas dengan segala kesibukan menjelang kegiatan FDW mendatang. Banyak sekali siswa yang tidak mengikuti jam pelajaran karena sangat sibuk dalam kegiatan kepanitiaan. Hal ini rutin terjadi menjelang pelaksanaan kegiatan FDW pada setiap tahunnya. Dampak dari siswa yang meninggalkan jam pelajaran tentunya adalah siswa itu sendiri akan tertinggal materi pembelajaran, sebagai konsekuensinya siswa yang bersangkutan harus mengejar ketertinggalannya secara mandiri maupun tambahan di luar jam pelajaran yang disediakan sekolah.

5.  Jadi menurut Anda kegiatan FDW mengganggu efektivitas belajar siswa?
Iya, benar sekali. Dengan banyaknya siswa yang keluar jam pelajaran terutama kelas 2 tentunya sangat mengganggu proses pembelajaran namun di satu sisi dengan adanya kegiatan FDW siswa bisa memperoleh pengalaman berorganisasi yang sangat bermanfaat. Sebagai pelajar, prestasi akademik memang sangat penting namun sebuah pengalaman organisasi seperti ini tidakklah kalah penting. Kemampuan organisasi dan prestasi akademik harus seimbang jadi pintar saja tidaklah cukup, harus diimbangi dengan kemampuan leadership sehingga akan lebih leluasa dalam mengimplementasikan ide-ide yang ada.

6.  Bagaimana perbandingan kurva prestasi akademik siswa pada semester 1 dan 2?
Secara umum mgrafik prestasi akademik siswa di semester 2 untuk kelas 1 dan 2 memang agak menurun bila dibandingkan dengan semester sebelumnya walaupun ada juga beberapa siswa yang menunjukkan grafik yang tetap stabil. Intinya walau banyak aktivitas prestasi belajar siswa haruslah tetap dijaga.

7.  Apa saran Anda agar belajar tetap efektif walau penuh aktivitas?
Sebagai seorang siswa tentunya skala prioritas sangatlah penting, setiap siswa harus memiliki skala prioritas yang baik untu belajar. Selain itu pengaturan konsentrasi juga sangat penting apa lagi bagi para siswa yang telah menginjak remaja. Karena perasaan suka terhadap lawan jenis biasanya bisa mengganggu konsentrasi siswa dalam belajar. Intinya jadikanlah belajar pada skala prioritas yang paling atas.

Demikianlah hasil wawancara dengan Ibu Euis Tresna, cukup banyak informasi yang bisa kita ambil dari wawancara tersebut mengenai belajar mengajar di SMA Dwiwarna. Berikut adalah hasil wawancara kepada salah satu siswa yaitu Rini Mayasari siwa kelas 2.

1.  Apakah menurut Anda proses belajar mengajar di semester 2 ini sudah efektif?
Menurut saya pembagian jadwalnya masih belum efektif terutama waktu hari Jum’at. Hari Jum’at itu jam olahraga paginya sangat membuang waktu, kenapa tidak dimanfaatkan saja untuk belajar. Tentunya hal itu akan lebih baik bila dibandingkan berolahraga berlama-lama namun pada akhirnya banyak siswa yang tidak hadir pada jam olahragaitu. Sebaiknya jam olahraga pagi ditiadakan saja atau dikurangi waktunya.

2. Menurut Anda apakah dengan adanya kegiatan FDW di semester 2 ini mengganggu kegiatan belajar?
Menurut saya pribadi tidak terlalu mengganggu untuk saya karena saya sendiri jarang untuk keluar kelas dan meninggalkan jam pelajaran. Mungkin karena jabatan kepanitiaan saya tidak terlalu sibuk bekerja sehingga tak terlalu mengganggu untuk saya. Tetapi saya merasa belajar jadi kurang efektif karena walau hanya sebentar meninggalkan jam belajar, sangat berpengaruh sekali. Selain itu akibat banyak siswa lain yang keluar jam pelajaran gurupun jadi agak tak bersemangat dalam belajar sehingga belajar jadi kurang efektif.

3.  Apa saran Anda agar belajar menjadi lebih efektif?
Saran saya agar belajar menjadi efektif adalah dengan penambahan jam di luar jam belajar setelah kegiatan FDW usai sehingga materi pembelajaran yang tertinggal dapat segera dikejar dan dikuasai siswa. Selain itu pengelompokan siswa secara homogen itu sangat penting untuk menambah keefektifan dalam belajar mengajar dengan demikian materi yang diajarkan akan efektif diserap siswa karena siswa twlah dikelompokkan sesuai dengan kemampuan dan potensinya masing-masing.

Sungguh luar biasa apa yang diuraikan dan dijelaskan oleh para narasumber kita. Banyak manfaat dan informasi yang bisa kita ambil darinya, terutama bagi kami sebagai tim pewawancara. Masih banyak kekurangan di sana sini dalam teknik wawancara dan penyusunan laporan, kami harus lebih banyak belajar lagi dan dimohon saran dari Anda sekalian yang telah membaca hasil laporan kami ini. Terimakasih kami ucapkan kepada guru pembimbing dan narasumber yang telah banyak membantu demi kerampungan laporan ini.

Beberapa gambar dari dokumenter kami ketika kami melakukan wawancara :

wawancara dengan bu ET (Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum)

wawancara dengan bu ET (Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum)

bu ET sedang diwawancarai

wawancara dengan Rini Mayasari (siswa kelas XI SMA Dwiwarna)

wawancara dengan Rini Mayasari (siswa kelas XI SMA Dwiwarna)

Rini Mayasari sedang dwiwawancarai

Rini Mayasari sedang dwiwawancarai

Iklan

Read Full Post »

oleh Kevin Pradana

Kerajaan Daha atau yang sekarang di sebut Kediri adalah kerajaan yang berpenduduk tidak sekidit dan rakyatnya pula makmur. Rajanya yang bernama Erlangga yang bijaksana,yang memimpin kerajaan ini dengan sangat baik. Tiba-tiba para penduduk gelisah akibat adanya kabar burung akan adanya musuh yang datang yang akan menebarkan penyakit.

Di desa Girah tinggallah janda bernama Calon Arang. Ia punyai anak gadis berumur 25 tahun, yang sampai sekarang masih belum diperisrti. Tak seorang pun yang berani meminangnya periha ibundanya yang terkenal dengan ilmu teluhnya. Karena tidak seorang pun yang berani meminang anak gadis nya itu pun Calon arang marah. Datanglah ia ke candi dewai Durga dengan para murid-muridnya, perihal meminta izin untuk menerbitkan penyakit untuk membunuh para penduduk. Dan sang dewi pun mengizinkan nya dengan satu syarat, Calon Arang tidak boleh menebarkan penyakit sampai dalam kota.

Di Lemah Tulis, sebuah desa yang tentram tinggalah seorang empu yang sakti dan soleh. Ia bernama Bharadah, seorang sakti yang memilki seorang anak cantik nan soleh Wedawati. Ketika ibunda tercinta dari pada Wedawati meninggalkan nya untuk selamanya ia pun bersedih hati sepeninggalan ibunya, ia menangis tanpa henti dan terus menangis. Di tamnah dengan ayah nya yang menikah lagi dengan wanita lain, yang ternyata wanita bermuka dua. Wedawati pun melarikan diri kearah makam ibundanya.  Diperjalanan ia menemukan sekeluarga yang meninggal terkena teluh Calon Arang. Dewawati pun membantu membersihkan mayat-mayat itu.

Calon Arang dan para murid nya mulai mengganas, mereka gemar berkeramas dengan darah para korban mereka. Tak seorang pun berani menghadapi mereka. Yang melawan mereka, terbunuh lah dengan cara-cara yang bengis. Jadilah desa itu desa yang penuh mayat bergeletakan.

Para penduduk pun memohon kepada raja untuk menghukum Calon Arang. Raja pun menyanggupinya. Ia pun mengirim para bala tentara untuk membunuh sang Calon Arang. Tetapi kegiatan itu tidak lah berhasil. Hilanglah harapan para penduduk Daha.

Ternyata Calon arang pun agak takut terhadap balatentara raja yang banyak pula kuat. Ia meminta pendapat para murid nya apa yang sebaik nya ia perbuat. Ia pun berniat untuk menyerang ibukota. Ia pun meminta izin kembali kepada dewi Durga, dan permintaan itu pun di setujui oleh sang dewi.

Raja pun sadar bahwa mantra harus d lawan dengan mantra. Ia pun memohon pertolongan petunjuk dari sang Dewa. Dewa pun merekomendasikan empu Bharadah. Empu pun menyanggupi permohonan sang baginda. Empu memberi petunjuk untuk menjodohkan anak gadis dari pada Calon Arang dengan seseorang.

Empu pun berniat untuk kembali bertapa. Sepeninggalan empu bertapa sang Ibu kembali bertingkah. Kuburan ibunya pun menjadi pelariannya. Sepulang sang Empu dari pertapaannya ia menemukan anaknya tak dirumah, ia pun bergegas ke kuburan istrinya. Ayahnya membujuknya tapi tak berhasil. Ia pun pulang kerumah dan meminta para lelaki membuatkan rumah untuk Wedawati tinggal di dekat ibunya. Pekuburan itupun langsung dibuat indah dengan berbagai bunga-bunga yang menghiasi. Para pendudukpun datang untuk melihat keindahan taman perkuburan itu.

Mulailah rencana sang Empu, dengan mengutus empu Bahula untuk meminang anak Calon arang. Dengan berbagai mas kawin yang di siapkan oleh raja Bahula pun pergi melamar Ratna manggali. Rencana itu pun berhasil, sungguh girang nya sang Calon arang dengan peminangan itu. Acara pernikahan yang megah pun diselenggarakan. Bahula pun mendapatkan rahasia kekuatan dari pada Calon Arang. Bahula pun meminta istrinya untuk mengambilkan kitab Calon Arang untuk dipelajarinya. Setelah di dapatkannya ia pun segera memberinya kepada Empu Bharadah. Lalu, dikembalikannya kitab itu kepada Calon Arang, Empu Bharadah pun memulai aksinya untuk menyembuhkan para penduduk.

Empu pun dipertemukan dengan sang Calon arang, Calon arang meminta penganpunan dosa kepada Empu tetapi sang Empu tidak dapat menyanggupinya, karena terlampau banyak dosa sang Arang. Marahlah sang Calon mendengar itu. Calon Arang pun menunjukan kehebatannya supaya sang Bharadah tau siapa ia. Tapi saat Bharadah ingin Calon arang untuk mati, saat itupula sang arang mati. Tapi sang empu menghidupkannya lagi untuk mensucikan hati sang Arang dan mematikannya lagi. Kabar kematian Calon Arang pun tersiar keseluruh penjuru negeri, dan itu kabar yang terlampau bahagia.

Sekarang ladang kembali di tanami. Orang-orang kembali hidup damai. Anak-anak kembali bermain dengan ceria di halaman.

Terima kasih Empu Bharadah.

Read Full Post »