Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘yudith’

oleh Arista Dhaivina dan Yudith Yolanda Matindas

Setiap sekolah biasanya memiliki sebuah kantin, mungkin kantin Dwiwarna sedikit berbeda dari kantin sekolah-sekolah lain, karena Dwiwarna adalah sekolah berasrama dan kantin harus melayani siswa seharian penuh mulai dari pagi, siang, sampai malam.

Kantin Dwiwarna didirikan pada tahun 2000 dan diambil alih oleh yayasan sekolah pada tahun 2001, sebagai tempat untuk menyiapkan makanan bagi siswa-siswi dan seluruh civitas Dwiwarna. Para siswa-siswi biasanya makan di kantin 3 kali dalam satu hari, yaitu pada pagi hari pukul 05.30-06.30, siang 13.15-1450, dan malam pukul 08.00-08.30, sedangkan beberapa civitas Dwiwarna, hanya makan pada siang hari. Siswa putra biasa makan di kantin besar, sedangkan siswi putri makan malam di pendopo. Pengaturan menu biasa diatur oleh Ibu Sitti dan dibantu dengan cook dan ascook.

Seorang Psikolog SMA Dwiwarna, berpendapat “kantin Dwiwarna adalah tempat yang melayani civitas Dwiwarna untuk sarapan pagi, makan siang dan makan malam.” Menurut beliau kantin Dwiwarna didirikan adalah sebagai fasilitas yang melengkapi pelayanan terhadap pendidikan di sekolah. Beliau berpendapat tentang kantin SMA Dwiwarna, menurutnya “kantin Dwiwarna sudah baik tetapi masih kurang exellent, minuman yang disajikan kalau bisa jangan air teh karena akan menghambat penyerapan zat besi, selain itu penggantian kursi dengan bahan kain justru jadi banyak bulu kucing yang menempel”. Bu Tynsusi memberikan saran untuk kantin Dwiwarna “Sebaiknya bahan kursi dapat diganti, dan teh tidak baik disajikan dengan makanan berat”. Beberapa siswa-siswi SMA Dwiwarna juga berpendapat yang sama.

Iklan

Read Full Post »

oleh Yudith Yolanda Matindas

Larasati adalah seorang artis terkenal pada saat zaman penjajahan. Ara nama panggilannya. Pada awalnya Ara bermain dalam film propaganda penjajah tapi akhirnya ia mulai tertarik pada perjuangan kaum revolusioner yang berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Perasaan ini timbul karena Ara pernah tinggal di Jogjakarta selama setahun untuk mengibur pejuang secara sukarela. Selain bermain film, Ara juga sering menjadi penghibur kaum adam salah satunya adalah Kapten Oding, teman dekatnya. Kapten Oding adalah seorang revolusioner yang mengantar Ara ke stasiun ketika Ara menuju kampung halamannya di Jakarta.

Ara ke Jakarta karena ingin bertemu ibunya dan membangun karir filmya kembali. Di dalam kereta, Ara bertemu dengan bermacam-macam orang. Pertama, Ara bertemu dengan kakek yang ternyata seorang petinggi militer dan pemuda yang mencurigakan. Waktu tiba di Cikampek, Ara bertemu dengan pemuda yang memiliki jiwa seni tinggi. Pejuang ini menitipkan sebuah misi penting yaitumencari tahu keberadaan salah satu anak buahnya yang hilang dalam tugas mata-mata di Jakarta. Di dalam perjalanan, Ara bertemu dengan Mardjohan, orang yang pernahada dalam hidup Ara pada masa kejayaan Ara. Mardjohan diutus oleh KNIL untuk merayu Ara supaya bermain dalam sebuah film propaganda NICA. Ara menolak rayuan itu karena ia lebih memilih untuk berjuang demi kemerdekaan dengan caranya sendiri. Keputusan Ara ini membuat sang kolonel marah dan membawa Ara ke penjara untuk menakutinya. Di penjara Ara bertemu dengan pejuang revolusioner yang sekarat.  Pejuang ini ternyata adalah anak buah sang pejuang yang ditemuinya di Cikampek.

Ara tidak kuat melihat keadaan tawanan di penjara itu. Ia pingsan dan dibawa keluar penjara. Supir kolonel Nica yang membawa Ara keluar penjara adalah seorang pejuang revolusioner. Namanya adalah Martabat. Martabat membawa kabur Ara ke kampung halamannya di Jakarta. Di kampungnya Ara bertemu dengan ibunya. Keadaan ibunya sangat memprihatinkan. Ibu Ara hanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah orang Arab. Di kampung ini Ara dan Martabat bergabung dengan kawanan revolusioner lainnya untuk merencanakan pertempuran.

Tantangan yang dihadapi Ara sangat besar. Ia tidak hanya bertempur dengan tentara NICA. Majikan ibunya, Jusman, mencoba untuk memperkosa Ara. Pada awlanya Ara berusaha memberontak tapi karena rasa lapar dan tekanan yang sangat besar, Ara akhirnya menyerahkan juga kewanitaannya. Jusman sangat mencintai Ara dan mau memberikan segala sesuatu untuk Ara. Tapi ia tidak ingin melepaskan Ara. Di hati kecil Ara, ia tetap mendukung perjuang para pahlawan untuk mencapai kemerdekaan. Hingga suatu saat perjuangan kaum revolusioner mulai terlihat. Banyak tentara NICA termasuk Jusman yang kaget bahwa Ara alah seorang mata-mata NICA. Kemerdekaan seutuhnya berada di jiwa Ara. Perempuan yang berjuang segenap jiwa-raga dengan caranya sendiri.

Read Full Post »