Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘shirine’

oleh Fathia dan Shirine

Menurut Ade Meutia Sutikno (siswi kelas 2), FDW (Festifal Dwiwarna) adalah sebuah event yang merupakan ajang milik 2 angkatan yang diadakan setiap tahun. Kegiatan ini bertujuan untuk mempererat hubungan antarsekolah dan setiap siswa-siswi di Dwiwarna.

Untuk tahun ini FDW  berjudul “EUPHORIA” Event of Sports and Arts by Unity of Dwiwarna yang bertema “Two Fingers Up for Peace”.  FDW tahun ini akan mengadakan DW Cup akan dilaksanakan pada tanggal 9-14 februari 2009 dan pada puncak acara yaitu tanggal 14 februari akan dilaksanakan pentas seni di Gor Pajajaran Bogor, akan di meriahkan oleh Nidji dan Netral. Sejauh ini persiapan sudah 97% dan juga sudah ada pengamanan dari kepolisian . Semua anggota FDW sangat berperan penting dalam kegiatan ini. Peran saya adalah sebagai ketua FDW tahun ini. Perasan saya sangat bangga dan sedikit deg-degan menjelang FDW, saya berharap untuk FDW tahun ini akan sukses dan untuk tahun depan semoga akan lebih baik .

Menurut Raihan (siswa kelas 1), FDW adalah acara 2 angkatan untuk menghibur diri. Tujuannya untuk mempererat hubungan siswa-siswi Dwiwarna itu sendiri. ”Setahu saya tema FDW tahun ini “EUPHORIA” yang akan dilaksanakan tanggal 9-14 februari 2009, saya kurang tahu sudah sejauh apa persiapan FDW tahun ini . Menurut saya yang berperan penting itu saya, peran saya adalah sebagai seksi Basket putra. Perasaan saya menjelang FDW biasa saja, di samping itu saya sedikit kesal karena Rocket Rockers tidak jadi ditampilkan dalam pentas seni (pensi). Harapan saya untuk tahun depan pasti sukses dan saya berharap menjadi ketua FDW tahun depan.

Menurut Mr. Kumbang (nama disamarkan) semua siswa-siswi sangat berperan penting. Perasaan saya menjelang FDW hanya penasaran bagaimana siswa-siswi kami menyiapkan segala hal dan harapan saya untuk tahun ini agar sukses dan untuk tahun depan untuk lebih sukses dan belajar mempersiapkannya dari sekarang .

Iklan

Read Full Post »

oleh Shirine

Kisah ini terdapat di banten selatan yang ketika itu terjadi pemberontakan DI/TII. Ranta seorang buruh miskin bersama istrinya Ireng tinggal di sebuah gubuk yang terletak di kaki gunung. Ireng selalu mengeluh atas kekacauan yang terjadi di desanya akibat  perang ini.

Suatu hari datang juragan Musa yang kaya raya dan makmur. Ranta akan diberikan uang seringgit asal ia mau mencuri bibit karet, Lalu Ranta menyutujui pekerjaan yang diberikan juragan Musa.

Pada malam harinya Ranta berhasil mencuri bibit karet tersebut tetapi juragan Musa tidak mau memberikan upah tambahan kepada Ranta. Juragan Musa malah merampas bibit karet itu dan mengancam akan melaporkan Ranta.

Beberapa hari kemudian juragan Musa datang ke rumah Ranta. Ranta sudah tidak bisa menahan amarahnya dan juragan Musa lansung pergi dari rumah Ranta. Musa meninggalkan tas dan tongkatnya di ruman Ranta.

Musa pulang ke rumahnya dan langsung memarahi istrinya dan merekapun bertengkar. Tiba-tiba datanglah Djameng anak buah juragan musa, djameng melapor bahwa komandan telah pergi ke kota, dan Djameng juga melihat Ranta membawa tas dan tongkat juragan Musa.

Lalu juragan Musa meminta tolong pada Pak Kasan untuk membereskan Ranta. Ternyata dalam pertengakaran ini juragan Musa berkata bahwa ia adalah seorang petinggi DI. Istrinya marah sekali ketika mendengar itu karena orangtuanya adalah korban kekejaman DI.

Musa kaget sekali ketika komandan datang kerumahnya. Ternyata komandan sudah mendengarnya langsung bahwa Musa adalah petinggi  DI, lagipula komandan sudah lama mencurigai Musa karena Ia tidak pernah diganggu oleh DI sedangkan semuanya sudah pernah. Musa semakin kaget ketika ia melihat komandan membawa tas yang berisi surat penting milik  Musa. Lalu juragan Musa membantah semua tuduhan komandan.

Terdengar suara burung yang menjadi kode yang menandakan ada orang yang datang. Semua pasukan komandan langsung bersembunyi. Tiba-tiba datang rombongan pak lurah dan menyebut Musa (pak residen). Pak lurah berkata bahwa komandan sedang pergi dan markasnya hanya ada 10 orang saja dan merencanakan akan menyerang markas tersebut. Musa  hanya berpura-pura tidak tahu apa-apa. Setelah rombongan lurah pergi komandan melanjutkan pemeriksaan tetapi Musa tetap membantah.

Terdengar suara burung lagi. Ternyata pak Kasan datang dan berkata bahwa Ranta tidak ada di rumah dan tidak melihat tas dan tongkatnya. Bahkan Kasan berkata bahwa Ia membakar rumah Ranta. Komandan muncul dan menangkap mereka. Akhirnya komandan mengangkat Ranta menjadi Lurah sementara.

Read Full Post »