Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘hasil wawancara’ Category

Oleh A. M. Raihan

Pada hari Kamis, saya berkesempatan untuk mewawancarai ibu Euis Tresna, Wakil Kepala Sekolah bid. Kurikulum SMA Dwiwarna mengenai “Kunjungan Siswa Morioka Jepang ke SMA Dwiwarna Boarding School pada tanggal 24-27 Maret 2009”. Menurut beliau kunjungan ini sangat baik bagi anak-anak. Hal ini diakuinya terlihat dari antusiasme anak-anak dalam menyambut kegiatan kunjungan ini. Yang pasti, beliau sebagai pembimbing, mengaku sangat puas dengan penampilan, dan sambutan anak-anak SMA Dwiwarna. “Anak-anak kita mampu tampil sangat prima meskipun hanya melakukan latihan dalam waktu yang singkat”, kata Euis Tresna. Menurut beliau, kedatangan siswa Morioka ini, dapat melatih siswa SMA Dwiwarna untuk semakin memperlancar bahasa Inggris mereka.

Menurut Ibu Euis Tresna, meskipun anak-anak SMA Dwiwarna dapat menyambut tamu tersebut dengan baik, tetapi bukan berarti acara penyambutan ini tanpa kekurangan, “Kegiatan ini cukup menggangu jam pelajaran anak-anak dan aktifitas anak-anak, persiapan yang sedikit telat membuat acara ini masih perlu dibenahi lagi ke depannya”, begitu kata wakil kepala sekolah bid. Kurikulum SMA Dwiwarna ini. Menurut beliau, siswa Jepang yang datang ke SMA Dwiwarna terlihat senang dengan penyambutan siswa SMA Dwiwarna. Ini terlihat dengan antusiasme mereka untuk mengikuti seluruh susunan acara yang telah dipersiapkan.

“Kedatangan siswa Jepang ke sekolah kita dapat semakin meningkatkan motivasi anak-anak untuk lebih banyak tahu tentang negara Jepang, karena Jepang adalah sebuah negara yang sangat membiasakan para penduduknya untuk lebih disiplin, rapih, dan saling menghormati satu sama lain”, kata Ibu Euis Tresna. Kedatangan siswa Jepang ke SMA Dwiwarna menurutnya, dapat dijadikan sebagai salah satu wadah bagi para siswa dan guru-guru untuk menunjukkan keindonesiaan mereka terhadap tamunya tersebut. Hal ini ditunjukkan pada saat acara makan malam bersama, para siswa dan guru-guru memakai batik yang merupakan ciri khas tekstil Indonesia. “Mereka terlihat sangat antusias untuk menunjukkan keindonesiaan mereka, banyak anak-anak dari kita, rela membeli batik baru hanya untuk menyambut saudara mereka dari Jepang itu. Sekaligus menunjukkan keindonesiaan mereka”, begitu kata Inu Euis Tresna. Setelah itu, sebagai penutup acara perpisahan pun diselenggarakan di aula pada hari Jumat.

Iklan

Read Full Post »

oleh Fathia dan Shirine

Menurut Ade Meutia Sutikno (siswi kelas 2), FDW (Festifal Dwiwarna) adalah sebuah event yang merupakan ajang milik 2 angkatan yang diadakan setiap tahun. Kegiatan ini bertujuan untuk mempererat hubungan antarsekolah dan setiap siswa-siswi di Dwiwarna.

Untuk tahun ini FDW  berjudul “EUPHORIA” Event of Sports and Arts by Unity of Dwiwarna yang bertema “Two Fingers Up for Peace”.  FDW tahun ini akan mengadakan DW Cup akan dilaksanakan pada tanggal 9-14 februari 2009 dan pada puncak acara yaitu tanggal 14 februari akan dilaksanakan pentas seni di Gor Pajajaran Bogor, akan di meriahkan oleh Nidji dan Netral. Sejauh ini persiapan sudah 97% dan juga sudah ada pengamanan dari kepolisian . Semua anggota FDW sangat berperan penting dalam kegiatan ini. Peran saya adalah sebagai ketua FDW tahun ini. Perasan saya sangat bangga dan sedikit deg-degan menjelang FDW, saya berharap untuk FDW tahun ini akan sukses dan untuk tahun depan semoga akan lebih baik .

Menurut Raihan (siswa kelas 1), FDW adalah acara 2 angkatan untuk menghibur diri. Tujuannya untuk mempererat hubungan siswa-siswi Dwiwarna itu sendiri. ”Setahu saya tema FDW tahun ini “EUPHORIA” yang akan dilaksanakan tanggal 9-14 februari 2009, saya kurang tahu sudah sejauh apa persiapan FDW tahun ini . Menurut saya yang berperan penting itu saya, peran saya adalah sebagai seksi Basket putra. Perasaan saya menjelang FDW biasa saja, di samping itu saya sedikit kesal karena Rocket Rockers tidak jadi ditampilkan dalam pentas seni (pensi). Harapan saya untuk tahun depan pasti sukses dan saya berharap menjadi ketua FDW tahun depan.

Menurut Mr. Kumbang (nama disamarkan) semua siswa-siswi sangat berperan penting. Perasaan saya menjelang FDW hanya penasaran bagaimana siswa-siswi kami menyiapkan segala hal dan harapan saya untuk tahun ini agar sukses dan untuk tahun depan untuk lebih sukses dan belajar mempersiapkannya dari sekarang .

Read Full Post »

oleh Fitrian Muhammad Oddang, Kevin Pradana dan Brama Putra Sriyatno

Ketika kita mendengar kata belajar mungkin sosok pelajarlah yang terbersit di benak kita semua. Seperti apa belajar menurut Anda? Tentunya kita semua memiliki persepsi yang berbeda entah menyenangkan atau mungkin menyebalkan.

Begitu pentingnya belajar bagi kita, di mana pun dan kapan pun. Banyak sekolah-sekolah yang menyediakan fasilitas pendidikan formal baik dari tingkat dasar hingga tingkat atas. Salah satu dari penyedia fasilitas itu adalah SMA Dwiwarna. Seperti apa nuansa belajar di sana dan sudahkah belajar dengan efektif semua akan dibahas di sini.

Berkenaan dengan hal tersebut kami berhasil mewawancarai beberapa narasumber yaitu Ibu Euis Tresna sebagai salah satu staf pendidik dan Rini Mayasari selaku siswa. Berikut adalah kutipan wawancara dengan Ibu Euis.

1.    Menurut Anda seperti apa belajar efektif itu?
Belajar yang efektif adalah belajar yang mampu mengoptimalkan pencapaian target belajar, baik akademis maupun kepribadian. Jadi, dengan waktu yang ada dan tersedia, target-target itu harus bias dicapai dengn memaksimalkan segala instrumen-instrumen pendidikan dan belajar.

2.   Apa saja yang harus dioptimalkan dan dimaksimalkan dalam belajar?
Pertama adalah persiapan guru pengajar dan siswa itu sendiri. Jadi, untuk setiap guru yang akan mengajar sebaiknya telah menyiapkan dan menguasai materi yang akan disampaikan dengan baik, sehingga apa yang disampaikan pada siswa menjadi lebih focus, terarah, dan mudah dipahami. Kemudian untuk siswa harus bisa mengoptimalkan segala alat Bantu belajar sehingga apa yang telah disampaikan oleh para pengajar dapat dengan mudah dicerna dan diingat.

3. Adakah perubahan yang Anda rasakan di semester 2 ini pada kegiatan belajar mengajar?
Sebenarnya ada perubahan yang mungkin ada kaitannya dengan kegiatan Festival Dwiwarna (FDW) 2009 ini yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Hal ini jelas mengganggu, menurut saya pribadi terutama sangat mengganggu dan merugikan waktu belajar siswa.

4.  Perubahan seperti apa yang terjadi dan bagaimana dampaknya?
Tentunya perubahan terlihat pada suasana belajar mengajar di kelas dengan segala kesibukan menjelang kegiatan FDW mendatang. Banyak sekali siswa yang tidak mengikuti jam pelajaran karena sangat sibuk dalam kegiatan kepanitiaan. Hal ini rutin terjadi menjelang pelaksanaan kegiatan FDW pada setiap tahunnya. Dampak dari siswa yang meninggalkan jam pelajaran tentunya adalah siswa itu sendiri akan tertinggal materi pembelajaran, sebagai konsekuensinya siswa yang bersangkutan harus mengejar ketertinggalannya secara mandiri maupun tambahan di luar jam pelajaran yang disediakan sekolah.

5.  Jadi menurut Anda kegiatan FDW mengganggu efektivitas belajar siswa?
Iya, benar sekali. Dengan banyaknya siswa yang keluar jam pelajaran terutama kelas 2 tentunya sangat mengganggu proses pembelajaran namun di satu sisi dengan adanya kegiatan FDW siswa bisa memperoleh pengalaman berorganisasi yang sangat bermanfaat. Sebagai pelajar, prestasi akademik memang sangat penting namun sebuah pengalaman organisasi seperti ini tidakklah kalah penting. Kemampuan organisasi dan prestasi akademik harus seimbang jadi pintar saja tidaklah cukup, harus diimbangi dengan kemampuan leadership sehingga akan lebih leluasa dalam mengimplementasikan ide-ide yang ada.

6.  Bagaimana perbandingan kurva prestasi akademik siswa pada semester 1 dan 2?
Secara umum mgrafik prestasi akademik siswa di semester 2 untuk kelas 1 dan 2 memang agak menurun bila dibandingkan dengan semester sebelumnya walaupun ada juga beberapa siswa yang menunjukkan grafik yang tetap stabil. Intinya walau banyak aktivitas prestasi belajar siswa haruslah tetap dijaga.

7.  Apa saran Anda agar belajar tetap efektif walau penuh aktivitas?
Sebagai seorang siswa tentunya skala prioritas sangatlah penting, setiap siswa harus memiliki skala prioritas yang baik untu belajar. Selain itu pengaturan konsentrasi juga sangat penting apa lagi bagi para siswa yang telah menginjak remaja. Karena perasaan suka terhadap lawan jenis biasanya bisa mengganggu konsentrasi siswa dalam belajar. Intinya jadikanlah belajar pada skala prioritas yang paling atas.

Demikianlah hasil wawancara dengan Ibu Euis Tresna, cukup banyak informasi yang bisa kita ambil dari wawancara tersebut mengenai belajar mengajar di SMA Dwiwarna. Berikut adalah hasil wawancara kepada salah satu siswa yaitu Rini Mayasari siwa kelas 2.

1.  Apakah menurut Anda proses belajar mengajar di semester 2 ini sudah efektif?
Menurut saya pembagian jadwalnya masih belum efektif terutama waktu hari Jum’at. Hari Jum’at itu jam olahraga paginya sangat membuang waktu, kenapa tidak dimanfaatkan saja untuk belajar. Tentunya hal itu akan lebih baik bila dibandingkan berolahraga berlama-lama namun pada akhirnya banyak siswa yang tidak hadir pada jam olahragaitu. Sebaiknya jam olahraga pagi ditiadakan saja atau dikurangi waktunya.

2. Menurut Anda apakah dengan adanya kegiatan FDW di semester 2 ini mengganggu kegiatan belajar?
Menurut saya pribadi tidak terlalu mengganggu untuk saya karena saya sendiri jarang untuk keluar kelas dan meninggalkan jam pelajaran. Mungkin karena jabatan kepanitiaan saya tidak terlalu sibuk bekerja sehingga tak terlalu mengganggu untuk saya. Tetapi saya merasa belajar jadi kurang efektif karena walau hanya sebentar meninggalkan jam belajar, sangat berpengaruh sekali. Selain itu akibat banyak siswa lain yang keluar jam pelajaran gurupun jadi agak tak bersemangat dalam belajar sehingga belajar jadi kurang efektif.

3.  Apa saran Anda agar belajar menjadi lebih efektif?
Saran saya agar belajar menjadi efektif adalah dengan penambahan jam di luar jam belajar setelah kegiatan FDW usai sehingga materi pembelajaran yang tertinggal dapat segera dikejar dan dikuasai siswa. Selain itu pengelompokan siswa secara homogen itu sangat penting untuk menambah keefektifan dalam belajar mengajar dengan demikian materi yang diajarkan akan efektif diserap siswa karena siswa twlah dikelompokkan sesuai dengan kemampuan dan potensinya masing-masing.

Sungguh luar biasa apa yang diuraikan dan dijelaskan oleh para narasumber kita. Banyak manfaat dan informasi yang bisa kita ambil darinya, terutama bagi kami sebagai tim pewawancara. Masih banyak kekurangan di sana sini dalam teknik wawancara dan penyusunan laporan, kami harus lebih banyak belajar lagi dan dimohon saran dari Anda sekalian yang telah membaca hasil laporan kami ini. Terimakasih kami ucapkan kepada guru pembimbing dan narasumber yang telah banyak membantu demi kerampungan laporan ini.

Beberapa gambar dari dokumenter kami ketika kami melakukan wawancara :

wawancara dengan bu ET (Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum)

wawancara dengan bu ET (Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum)

bu ET sedang diwawancarai

wawancara dengan Rini Mayasari (siswa kelas XI SMA Dwiwarna)

wawancara dengan Rini Mayasari (siswa kelas XI SMA Dwiwarna)

Rini Mayasari sedang dwiwawancarai

Rini Mayasari sedang dwiwawancarai

Read Full Post »

oleh Arista Dhaivina dan Yudith Yolanda Matindas

Setiap sekolah biasanya memiliki sebuah kantin, mungkin kantin Dwiwarna sedikit berbeda dari kantin sekolah-sekolah lain, karena Dwiwarna adalah sekolah berasrama dan kantin harus melayani siswa seharian penuh mulai dari pagi, siang, sampai malam.

Kantin Dwiwarna didirikan pada tahun 2000 dan diambil alih oleh yayasan sekolah pada tahun 2001, sebagai tempat untuk menyiapkan makanan bagi siswa-siswi dan seluruh civitas Dwiwarna. Para siswa-siswi biasanya makan di kantin 3 kali dalam satu hari, yaitu pada pagi hari pukul 05.30-06.30, siang 13.15-1450, dan malam pukul 08.00-08.30, sedangkan beberapa civitas Dwiwarna, hanya makan pada siang hari. Siswa putra biasa makan di kantin besar, sedangkan siswi putri makan malam di pendopo. Pengaturan menu biasa diatur oleh Ibu Sitti dan dibantu dengan cook dan ascook.

Seorang Psikolog SMA Dwiwarna, berpendapat “kantin Dwiwarna adalah tempat yang melayani civitas Dwiwarna untuk sarapan pagi, makan siang dan makan malam.” Menurut beliau kantin Dwiwarna didirikan adalah sebagai fasilitas yang melengkapi pelayanan terhadap pendidikan di sekolah. Beliau berpendapat tentang kantin SMA Dwiwarna, menurutnya “kantin Dwiwarna sudah baik tetapi masih kurang exellent, minuman yang disajikan kalau bisa jangan air teh karena akan menghambat penyerapan zat besi, selain itu penggantian kursi dengan bahan kain justru jadi banyak bulu kucing yang menempel”. Bu Tynsusi memberikan saran untuk kantin Dwiwarna “Sebaiknya bahan kursi dapat diganti, dan teh tidak baik disajikan dengan makanan berat”. Beberapa siswa-siswi SMA Dwiwarna juga berpendapat yang sama.

Read Full Post »

oleh  Qomariah

Siapa sih siswa SMA Dwiwarna yang tidak kenal dengan pak Eko atau yang lebih  akrab disapa pak Eko BK? Pria kelahiran Surabaya, 16 Mei ini adalah salah satu guru BK di SMA Dwiwarna. Sebenarnya ketika kuliah dia salah mengambil jurusan. Pada awalnya dia ingin menjadi seorang arsitek pertamanan. Namun, akhirnya dia masuk di Universitas Negeri Jakarta dengan jurusan Bimbingan dan Konseling. Ia pun berusaha untuk suka dengan jurusan yang telah diambilnya tersebut. Keluarga adalah pendukung utama baginya dalam mencapai kesuksesan ini.

Motto hidupnya adalah  jika aku bisa maka aku akan meraihnya. Motto itu selalu dipegangnya hingga sekarang dia berada di SMA Dwiwarna ini. Dia selalu memberi semangat kepada siswa-siswanya dengan motto yang dipegangnya itu.

Pria yang punya hobi olahraga dan bermain sepeda ini telah berhasil membuat alumni dan siswa-siswi Dwiwarna dalam mencapai cita-citanya dengan masuk ke Perguruan Tinggi Negeri favorit yang mereka inginkan. Dia sangat gigih dalam membantu menyukseskan siswa-siswi Dwiwarna. Sebagaimana kita tahu bahwa banyak alumni SMA Dwiwarna yang telah berhasil masuk ke Perguruan Tinggi Negeri favorit.

Tahun ini saja Renjani Ekalaya dan Rifa’atul Mahmudah berhasil menembus PMDK UI jurusan Akutansi dan Psikologi. Betapa bangganya beliau dengan hasil ini selain sebagai tugas dan tanggung  jawabnya sebagai seorang BK

Read Full Post »

oleh  Nadia Anisha

Halangan atau adanya pilihan atau keputusan berat yang kita temui dalam perjalanan kehidupan kita sesungguhnya bukanlah hambatan dalam menjalankan sesuatu. Bapak Imaduddin , guru agama yang lahir di Lamongan, 28 Februari ini pun pernah mengalami suatu pilihan yang tidak sesuai dengan keinginanya. Namun, ia tidak membuat itu semua menjadi hambatan dalam perjalanan kehidupannya. Ketika ia duduk di bangku SMP, ia mempunyai keinginan untuk melanjutkan pengetahuannya itu di bidang eksak. Namun, orang tua beliau menginginkan beliau untuk melanjutkan SMA di sekolah keagamaan atau yang sering kita sebut pondok pesantren .

Akhirnya ia melanjutkan pendididkan SMA di Pondok Lamongan pada tahun 1997. Tidak sedikit hambatan yang ia temui dalam melanjutkan di sekolah keagamaan atau pondok tersebut , contohnya: yang dulunya lebih menguasai dan biasa menghadapi pengetahuan eksak, di pondok itu dia harus menghadapi pelajaran dengan buku yang penuh dengan tulisan Arab gundul kecuali matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan PKN, yang lainnya penuh tentang keagamaan.

Di saat itu, beliau tidak dapat membaca tulisan Arab gundul sama sekali, tetapi Bapak yang memiliki motto hidup “Enak tidak enak harus enak” ini tidak merasa putus asa maupun malu . Ia berfikir jangan melakukan sesuatu dengan setengah–setengah. Dia berusaha keras untuk mengejar ketinggalannya itu dengan meminta temannya mengajarinya membaca tulisan arab gundul tersebut  setiap shubuh. Akhirnya, dengan usahanya itu dalam kurun waktu 1 semester ia dapat membaca tulisan Arab gundul tersebut .

Sekarang ia merasa bangga atas apa yang pernah ia alami dulu, karena apa yang ia alami di pondok membuat nya mempunyai banyak pengalaman yang membuat hidupnya lebih disiplin dan teratur. Pondok juga mengajarkannya untuk selalu beribadah dan selalu berada di jalan Allah SWT. Bukan hanya itu, dulu ia juga dapat menjadi salah satu lulusan terbaik di angkatannya dari kurang lebih 100 orang .

Di balik rasa bangganya itu, Bapak Imaduddin juga masih merasa belum terlalu menguasai dalam menerjuni ilmu tersebut .Ia merasa ketika ia berdiskusi dengan orang banyak ia belum bisa mengikuti atau memahami maksud apa yang dikatakan orang lain tersebut. Padahal, gurunya pernah mengatakan bahwa ia sudah mempunyai keahlian dan kelebihan yang bagus dalam berbahasa Arab. Pada akhirnya, Pak Imad memilih jurusan pemikiran Islam, tafsir dan hadist yang sekarang telah membuat beliau dapat mengajar di SMA Dwiwarna dan dapat menafsirkan buku Arab gundul.

Pro dan kontra yang terjadi pada Bapak Imaduddin pada waktu itu adalah adanya perbedaan antara keinginannya dengan orangtuanya. Di sini kita dapat mengambil pelajaran, keinginan orangtua yang tidak sama dengan kita itu pastilah tidak memiliki maksud buruk. Mereka pasti menginginkan yang terbaik untuk kita. Dari cerita Bapak Imaduddin, Ia mendapatkan banyak pelajaran, pengalaman berharga serta prestasi yang membanggakan di Pondok tersebut. Maka janganlah kita berpikir negatif dengan keinginan orangtua yang berlawanan. Sesungguhnya, hambatan yang kita temui itu bukan berarti halangan untuk kita, bahkan bukan pula sesuatu yang membuat kita berhenti dan tidak mau berusaha. Seperti apa yang dipikirkan Bapak Imaduddin bahwa jangan melakukan sesuatu dengan setengah–setengah, jangan membuat itu menjadi penyesalan di akhir. Berusahalah sebisa mungkin apa yang dapat kita lakukan. Semaksimal apa usaha kita dalam melakukan sesuatu, semaksimal itu jugalah hasil yang akan kita dapat. Keberhasilan akan kita dapatkan jikalau kita mau mau belajar dari kesalahan, mau mengkoreksi kekurangan diri sendiri dan terus optimis.

Read Full Post »