Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Problematika Bahasa’ Category

oleh  siswa-siswi X E

Di lingkungan sekitar, di koran-koran, dalam pembacaan berita, lirik-lirik lagu, artikel, bahkan pada dokumen kontrak pun kita banyak menemukan penggunaan kata  “merubah atau dirubah”. Misalnya dalam peggalan kalimat dalam buku Biologi berikut ini: “…dirubah menjadi zat warna empedu…”, atau dalam artikel koran: “ Setelah tahun kemarin berhasil merubah K750i menjadi W800i…”. Apa sebenarnya makna di balik kata merubah dan mengubah, dirubah, dan diubah, mari kita telusuri!

Dasar kata tersebut adalah ubah. Ubah berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti 1)menjadi lain (berbeda) dr semula; 2) bertukar (beralih, berganti) menjadi sesuatu yang lain; 3) berganti (tt arah). Ketika ada imbuhan awalan me-, atau di- seharusnya kata ubah tersebut menjadi mengubah dan diubah bukan menjadi merubah atau dirubah. Imbuhan me- dalam konteks di atas bermakna menjadi. Oleh sebab itu, kata ubah yang mendapat imbuhan me- bermakna menjadi ubah (berubah) atau menjadikan lain dari semula. Hal ini akan menjadi sangat berbeda jika kita menggunakan kata merubah yang berarti menjadi rubah, dengan kata dasar rubah yang mengalami pengimbuhan awalan me-, begitu pun dengan dirubah yang berarti dijadikan rubah. Kata ubah dan rubah tentu tidak sama. Rubah adalah nama jenis binatang yang dalam bahasa Inggris berarti fox. Jadi, jika kita mengatakan “Saya akan merubah dunia” itu berarti ”Saya akan menjadi rubah dunia”.

Ada kemungkinan penggunaan kata merubah atau dirubah berasal dari kata ubah yang diberi imbuhan ber- serta per- dan -an sehingga menjadi berubah dan perubahan. Sehingga banyak orang menganggap bahwa ketika kata ubah disisipkan awalan me- dan di- menjadi merubah atau dirubah. Oleh sebab itu, mulai sekarang marilah kita menggunakan kata mengubah dan diubah bukan merubah atau dirubah, agar makna dan maksud kata tersebut tetap dalam koridor yang tepat.

Meskipun kita tahu maksud si Penutur ketika mengatakan merubah bukan berarti menjadi rubah, tetapi tak ada salahnya kita bisa menggunakan bahasa dalam kaidah yang benar. Jika dibayangkan, cukup gawat juga kalau hal tersebut terus terjadi dan kita biarkan begitu saja. Terlebih lagi jika digunakan di media massa atau dokumen kontrak, itu akan menjadi kebiasaan buruk dalam berbahasa dan memaknai kata.

Mari kita membiasakan diri menggunakan kata mengubah daripada merubah. Bukankah lebih baik kita menjadi orang atau murid yang pintar, rajin, kaya, sukses, ganteng ataupun cantik dari pada menjadi seeokor rubah?

Iklan

Read Full Post »