Feeds:
Pos
Komentar

Archive for April, 2009

oleh M. Zaky Rifnaldi dan Safira Nadia

Suku Baduy adalah suku yang terkenal di daerah Banten. Mereka menyebut suku mereka sebagai orang Sunda Wiwitan. Sunda Wiwitan adalah suku sunda pertama. Selain itu, Sunda Wwitan juga merpakan nama kepercayaan yang mereka anut. Tetapi, sebagian besar masyarakat Suku Baduy ada yang menganut agama Hindui, karena pengaruh kerajaan Hindu Indonesia. Setelah beberapa tahun, Wali Songo datang ke daerah Banten, perlahan-lahan mereka menyebarkan agama Islam dengan cara perkawinan dan pendidikan.

Namun, karena pendirian masyarakat Suku Baduy yang kuat, mereka tidak mau menerima agama yang dibawa oleh Wali Songo. Tapi ternyata sebagian masyarakat Suku Baduy ada yang masuk ke agama Islam. Karena semakin banyak orang yang masuk ke agama Islam dari Suku Baduy sendiri, mereka melarikan diri kehutan belantara di suatu gunung di kota Rangkas untuk mengantisipasi agar tidak ada lagi anggota suku mereka yang masuk ke agama Islam. Sekarang kota Rangkas itu dinamakan Rangkas Bitung. Dan orang-orang Suku Baduy yang lari ke gunung itu dinamakan Suku Baduy. Sedangkan, yang sudah mengetahui bercampur baur dengan masyarakat modern dan beragama Islam dinamakan Baduy luar.

<!– @page { margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>

Bentuk    : Prosa

Bahasa    : Indonesia

Tema       : Asal mula golongan hitam dan putih di dalam suku Baduy

Alur         : Maju

Tokoh     : Wali Songo

Amanat : Suku Baduy yang pindah ke gunung rangkas mempunyai pendirian yang teguh.

Iklan

Read Full Post »

<!– @page { margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>

oleh Juan Mayang dan Frida R.M

Hiduplah seorang pemuda bernama Lahilote. Kegemarannya berburu di hutan dan moleleyangi (mengembara). Suatu hari, saat sedang berburu di hutan, dia melihat putri-putri kahyangan yang sedang mandi di kolam yang ada di hutan tempat Lahilote berburu, dia berniat memperistri salah satu dari putri-putri kahyangan tersebut. Maka, dengan kesaktiannya, Lahilote mengubah wujudnya menjadi seekor ayam jantan dan mencuri salah satu selendang milik putri-putri kahyangan itu.

Bilode Hulawa, putri kahyangan yang dicuri selendangnya itu sangat sedih. Lalu datanglah Lahilote untuk menghiburnya. Selang waktu beberapa bulan kemudian sejak kejadian itu, mereka berdua menikah. Sang putri kahyangan mempunyai sebuah kesaktian, yaitu memasak sebutir beras menjadi seperiuk nasi. Tetapi, karena ketahuan oleh Lahilote, kesaktiannya pun hilang.

Suatu hari sang Putri merasa sangat rindu dengan kahyangan tempat tinggalnya. Esoknya ketika ia hendak mengambil padi yang ada di lumbung, dia melihat selendangnya yang dulu hilang dalam keadaan sobek. Dia lalu menjahit selendangnya yang sobek itu lalu terbang menuju kahyangan, dengan terlebih dahulu menyuruh Lahilote pergi menangkap ikan agar kepergiannya tidak diketahui oleh Lahilote.

Ketika sedang mencari ikan untuk isterinya, ia kecapekan dan tertidur. Putri Bilode Hulawa menyiramkan cairan wangi dari atas kahyangan. Cairan itu terjatuh, dan mengenai dadanya sehingga membuatnya terbangun. Lahilote mengenali bau cairan itu adalah wangi isterinya. Tahulah ia bahwa isterinya telah kembali ke kahyangan. Lahilote panik, dan mulai mencari pertolongan. Dengan bantuan Hutia Mala (Rotan yang sangat panjang menjulang ke pintu langit) Lahilote sampai ke kahyangan dan bertemu isterinya, dia sangat bahagia.

Bertahun-tahun kemudian, Putri Bilode melihat uban di kepala suaminya, Lahilote. Karena takut akan peraturan kahyangan yang akan memancung setiap manusia kahyangan yang mengalami proses penuaan, maka keluarlah Lahilote dari kahyangan. Tetapi, ketika keluar dari khayangan, Lahilote terjatuh dalam posisi berdiri tegak ke bumi. Kaki kirinya jatuh di pantai Pohe, Gorontalo, sedangkan kaki kanannya jatuh di Boalemo, Gorontalo. Batu bekas kaki Lahilote di kedua tempat itu, masih dapat dijumpai sampai sekarang, dan telah manjadi objek wisata di Gorontalo.

Bentuk : Prosa (legenda)

Bahasa : Bahasa Indonesia

Tema : Lahilote, seorang pemuda yang mempersunting bidadari.

Alur : Maju

Tokoh : Lahilote, Putri Bilode

Sifat Masyarakat : Primitif, karena hidup dengan hasil buruan.

Amanat : Berjuanglah demi cinta, dan jangan khianati cinta itu.

Read Full Post »

Oleh Fahmi Risdian dan Dewina

Pada zaman dahulu di daerah Papua selatan di suatu tempat yang bernama Asmat, hiduplah seorang laki-laki tua yang bernama Wai. Dia hidup bersama anak gadisnya yang bernama Tarot. Mereka tinggal di sebuah rumah sederhana di hilir sungai.

Pada satu waktu Wai menemukan satu pohon palma yang di sebut pohon sagu di hutan. Wai selalu merawat pohon sagu itu dengan baik. Untuk menjaga agar tidak diambil atau dirusak oleh orang lain, maka Wai selalu memberi tanda pada batang pohon sagu itu dan menutupinya dengan daun-daun kering.

Namun tanpa Wai ketahui setelah dia pulang, seekor ular raksasa berwarna hitam yang di sebut Bini selalu dating untuk melakukan hal yang sama terhadap pohon sagu itu. Bini melakukannya karena ternyata di dalam pohon sagu itu terdapat satu roh yang mendiaminya yang bernama Beorpit. Pohon sagu yang terdapat arwah Beorpit itu telah dirawat oleh Bini semenjak pohon sagu itu masih kecil. Bini telah merawatnya seperti anak sendiri.

Waktu berlalu, Wai dan Tarot menemui masa sulit mencari makan, mereka kehabisan makanan. Wai yang tidak mengetahui roh di dalam pohon sagu tanpa pikir panjang langsung memotong pohon sagu itu, lalu diolah dan diambil sarinya sebagai tepung sagu untuk makanan dia dan purtinya. Ketika menebang pohon sagu Wai tidak mengetahui bahwa roh di dalamnya berteriak memanggil Bini. “Bee..aa..Bini..aa..Bee..aa..Biniaaa…!” roh itu berteriak smpai akhirnya tumbang. Bini yang tinggal tidak jauh dari situ mendengar teriakan Beorpit. Namun dia hanya melihat dari jauh sambil membaca mantra agar Wai tertidur. Benar saja setelah Wai selesai menebang pohon sagu, dia mengupas kulit batang pohon dan menokoknya hingga selesai. Setelah itu dia tertidur pulas karena kelelahan. Melihat itu Bini yang tinggal di atas pohon beringin turun dan langsung memakan Wai, lalu pergi dari tempat itu.

Selang beberapa waktu, Wai yang berada di dalam perut Bini terbangun. Dia sangat terkejut menyadari dirinya berada di dalam perut, Wai sangat ketakutan. Wai hanya dapat memanggil-manggil anaknya Tarot. Tarot yang berada di sekitar situ samara-samar mendengar suara yang memanggilnya. Tarot berjalan mencari asal suara dan menyadari bahwa itu adalah suara ayahnya. Lalu Tarot menyahut dan memanggil ayahnya, Wai pun menjawab sahutan Tarot “De, dor arera!” (mari, saya ada di sini.). “Ici pecak anakat.” (ini sangat mengerikan.). tarot pun semakin mendekati sumber suara, alangkah terkejutnya ketika dia menemukan Bini yang berada di hadapannya, Tarot sangat ketakutan. Tapi Tarot mendengar lagi suara ayahnya memanggilnya, “Cabutlah penyaring sagu dan datang mendekat, jangan takut. Bini tidak akan mengganggumu. Pergilah mencari bantuan, apabila ada orang yang dapat membantumu dan mereka lebih dari satu maka salah satu diantaranya akan menjadi suamimu.”

Tarot pun pergi setelah mendengar pesan ayahnya. Dia mencari bantuan sambil berteriak-berteriak sepanjang jalan berharap akan ada yang menyahut teriakannya. Tak berapa lama terdengar suara orang yang menyahut, orang itu lebih dari satu, mereka dipercaya adalah nenek moyang orang Asmat. Jamasap, Waise, Atsjakap, Amerepakat, Ndendewakap, Ewerakap, dan Jaunakap. Merekalah yang menolong Tarot. Mereka membunuh Bini bersama-sama, Waise menikam kepala Bini dengan tombak (kamen), Jamasap menikam ekornya dengan tombak dari pohon palma raja (omocam). Tubuh Bini dipotong-potong dan dibagikan ke setiap orang yang ada. Mereka membakar dan memakannya.

Setelah mereka memakan daging Bini datanglah air bah yang menyapu mereka dari tempat itu. Yang akhirnya membuat mereka terpencar-pencar ke seluruh wilayah Asmat.

Begitulah cerita ini terjadi. Bagaimana sungai Siretsj terjadi? Itu terjadi ketika Bini berjalan setelah menelan Wai. Jejak liukan tubuhnya yang menjadi sungai Siretsj.

Bentuk : Prosa

Bahasa : Bahsa Indonesia

Tema : Asal mula terjadinya Sungai Siretsj

Alur : Alur maju

Tokoh : Wai, Tarot, Bini, arwah Beorpit, Waise, Atsjakap, Amerepakat, Ndendewakap,

Ewerekap, Jaunakap

Amanat : Kita harus menjaga lingkungan agar lingkungan kita semakin bersih dan terjaga dari kerusakan

Read Full Post »

oleh Aldora Oktaviana, Lulu Fitriani, dan Nisrina Farzadillah

Alkisah, di sebuah desa di daerah Sumatera Barat hiduplah 10 orang bersaudara. 9 diantaranya adalah laki-laki yang sering disebut Bujang Sambilan. Sedangkan yang paling bungsu adalah seorang perempuan bernama Siti Ransani yang sering dipanggil Sani. Mereka semua adalah anak yatim piatu. Walaupun begitu mereka merupakan tanggung jawab dari “mamak” mereka. Suatu hari, Mamak mereka datang ke rumah mereka dengan membawa anaknya,Giran. Sejak pertama kali Giran dan Sani bertemu, mereka langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Setelah pertemuan itu merekapun sering bertemu. Dan akhirnya Giran pun menyatakan perasaan cintanya kepada Sani. Dan Sani pun merasakan hal yang sama hingga akhirnya mereka berduapun berpacaran.

Suatu hari di adakan pertunjukkan pencak silat yang diadakan di Balai Desa. Semua orang berbondong-bondong ke Balai Desa untuk menyaksikannya. Pertandingan awal dimulai dengan pertandingan antara kakak sulung Sani, Kukuban, melawan pesilat dari kampung sebelah. Pertandingan berjalan seru dan akhirnya Kukuban meraih kemenangan. Di pertandingan selanjutnya Kukuban terus menampakkan ketangguhannya. Semua pesilat tidak ada yang menang melawan Kukuban. Hingga akhirnya Kukuban harus melawan Giran. Mereka berdua merupakan pesilat yang tangguh. Tetapi, beberapa saat kemudian Kukuban menerima serangan yang tiada henti dari Giran dan akhirnya Giran pun menang. Kukuban pun harus menerima kekalahannya di sertai dengan kaki kirinya yang patah.

Beberapa bulan kemuadian, Mamak dan Giran datang ke rumah Sani untuk melamar Sani. 8 kakak Sani sudah setuju, namun Kukuban tidak. Ia masih merasa dendam atas kekalahannya dari Giran. Dan ia pun tidak menerima lamaran Giran. Sani yang mendengar hal itu pun merasa sedih. Lalu Giran dan Sani berencana untuk bertemu.mereka pun bertemu di pinggir sungai. Tiba-tiba paha Sani terkena duri, Giran pun dengan cepat mengobatinya. Tanpa mereka sadari, banyak warga yang mengawasi tindak tanduk mereka dari tadi. Warga pun mengira mereka berdua telah melakukan hal yang tidak pantas dilakukan oleh orang yang belum menikah. Mereka berdua pun langsung diadili di Balai Adat. Dan mereka harus dihukum dengan dibuang ke Gunung Tinjau yang konon katanya untuk membuang sial. Mereka pun beramai-ramai mengantar Giran dan Sani ke kawah Gunung Tinjau. Sesampainya di sana, Giran pun berdoa, “ Kalau kami memang salah maka badan kami akan hancur di kawah gunung ini. Tapi jika kami tidak bersalah, seluruh isi kawah ini akan hancur dan Bujang Sambilan akan berubah menjadi ikan. Kabulkanlah doa hamba ini ya Tuhan.” Lalu Giran dan Sani pun melompat ke kawah itu. Semua orang yang menyaksikan merasa tegang menanti apa yang akan terjadi. Tiba-tiba seluruh isi kawah itu keluar menghancurkan semuanya. Semua orang yang ada di sana tidak dapat menyelamatkan diri. Bujang Sambilan pun berubah menjadi ikan seketika.

Karena hal inilah danau tersebut disebut Danau Maninjau.

Bentuk : prosa

Bahasa : bahasa baku(bahasa Indonesia)

Tema    : asal usul Danau Maninjau

Alur      : maju

Tokoh  : Siti Ransani, Giran, Kukuban, Bujang Sambilan, Mamak, warga sekitar.

Amanat :

· Janganlah menghakimi seseorang sebelum kita mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

· Jangan suka menaruh dendan kepada orang lain

· Mempererat tali persaudaraan atau silaturahmi

Sumber :http://www.ceritarakyat.com

Read Full Post »

Si Pitung

oleh Deviandhiny & Pandu Satya

Si Pitung adalah pemuda asal Betawi yang rajin mengaji dan jago silat. Pada saat itu, Belanda sedang menjajah Indonesia. Si Pitung merasa iba dengan penderitaan rakyat kecil. Akhirnya, Pitung merencanakan perampokan di rumah tuan tanah Belanda bersama temannya. Hasil rampokan Pitung kemudian dibagikan kepada rakyat miskin.

Kesuksesan Pitung dan temannya dikarenakan oleh dua hal. Pertama, Pitung memiliki ilmu silat yang tinggi dan dikabarkan tubuhnya kebal peluru. Kedua, orang-orang tidak mau memberi tahu keberadaan Pitung. Namun, orang kaya korban perampokan

Pitung membujuk orang-orang untuk membuka mulut. Pada suatu hari, para tuan tanah mendapat informasi tentang keberadaan keluarga Pitung. Maka mereka menyandera kedua orangtuanya. Dengan siksaan yang berat akhirnya mereka mendapat informasi tentang keberadaan Pitung.

Akhirnya si Pitung di sergap dan dilempari dengan telur-telur busuk dan ditembak dengan peluru emas. Ia pun tewas seketika tetapi hingga kini si Pitung tetap dianggap sebagai pembela rakyat kecil.

Judul : Si Pitung

Bentuk    : Prosa

Bahasa    : Indonesia

Tema       : Kepahlawanan

Alur         : Maju

Tokoh     : Si Pitung, Orang Belanda

Amanat  : kita harus bisa menjaga rahasia orang

Read Full Post »

oleh Harya Bagas Wara dan Lazuardy Kusuma Sadewa.

Di dekat kota Yogyakarta terdapat candi Hindu yang paling indah di Indonesia. Candi ini dibangun dalam abad kesembilan Masehi. Karena terletak di desa Prambanan, maka candi ini disebut candi Prambanan tetapi juga terkenal sebagai candi Lara Jonggrang, sebuah nama yang diambil dari legenda Lara Jonggrang dan Bandung Bondowoso. Beginilah ceritanya:

Konon tersebutlah seorang raja yang bernama Prabu Baka. Beliau bertahta di Prambanan. Raja ini seorang raksasa yang menakutkan dan besar kekuasaannya. Meskipun demikian, kalau sudah takdir, akhirnya dia kalah juga dengan Raja Pengging. Prabu Baka meninggal di medan perang. Kemenangan Raja Pengging itu disebabkan karena bantuan orang kuat yang bernama Bondowoso yang juga terkenal sebagai Bandung Bondowoso karena dia mempunyai senjata sakti yang bernama Bandung.

Dengan persetujuan Raja Pengging, Bandung Bondowoso menempati Istana Prambanan. Di sini dia terpesona oleh kecantikan Lara Jonggrang, putri bekas lawannya. ya, bahkan putri raja yang dibunuhnya. Bagaimanapun juga, dia akan memperistrinya.

Lara Jonggrang takut menolak pinangan itu. Namun demikian, dia tidak akan menerimanya begitu saja. Dia mau kawin dengan Bandung Bondowoso asalkan syarat-syaratnya dipenuhi. Syaratnya ialah supaya dia dibuatkan seribu candi dan dua sumur yang dalam. Semuanya harus selesai dalam waktu semalam. Bandung Bondowoso menyanggupinya, meskipun agak keberatan. Dia minta bantuan ayahnya sendiri, orang sakti yang mempunyai balatentara roh-roh halus.

Pada hari yang ditentukan, Bandung Bondowoso beserta pengikutnya dan roh-roh halus mulai membangun candi yang besar jumlahnya itu. Sangatlah mengherankan cara dan kecepatan mereka bekerja. Sesudah jam empat pagi hanya tinggal lima buah candi yang harus disiapkan. Di samping itu sumurnya pun sudah hampir selesai.

Seluruh penghuni Istana Prambanan menjadi kebingungan karena mereka yakin bahwa semua syarat Lara Jonggrang akan terpenuhi. Apa yang harus diperbuat? Segera gadis-gadis dibangunkan dan disuruh menumbuk padi di lesung serta menaburkan bunga yang harum baunya. Mendengar bunyi lesung dan mencium bau bunga-bungaan yang harum, roh-roh halus menghentikan pekerjaan mereka karena mereka kira hari sudah siang. Pembuatan candi kurang sebuah, tetapi apa hendak dikata, roh halus berhenti mengerjakan tugasnya dan tanpa bantuan mereka tidak mungkin Bandung Bondowoso menyelesaikannya.

Keesokan harinya waktu Bandung Bondowoso mengetahui bahwa usahanya gagal, bukan main marahnya. Dia mengutuk para gadis di sekitar Prambanan dan tidak akan ada orang yang mau memperistri mereka sampai mereka menjadi perawan tua. Sedangkan Lara Jonggrang sendiri dikutuk menjadi arca. Arca tersebut terdapat dalam ruang candi yang besar yang sampai sekarang dinamai candi Lara Jonggrang. Candi-candi yang ada di dekatnya disebut Candi Sewu yang artinya seribu.


Sumber Informasi :

http://www.seasite.niu.edu/indonesian/Budaya_Bangsa/Cerita_Rakyat/default.htm


Judul      : Legenda Candi Prambanan.

Bentuk   : Cerpen

Bahasa   : Indonesia

Tema      : Cerita Rakyat dari Jawa Tengah

Alur        : Maju

Tokoh    : Prabu Baka, Raja Pengging, Bondowoso, Lara Jonggrang.

Amanat : Kita tidak boleh mengingkari janji

Read Full Post »

oleh A.M. Raihan R. (X-Akselerasi)

La Dana adalah seorang anak petani dari Toraja. Ia sangat terkenal akan kecerdikannya. Kadangkala kecerdikan itu ia gunakan untuk memperdaya orang. Sehingga kecerdikan itu menjadi kelicikan.

Pada suatu hari ia bersama temannya diundang untuk menghadiri pesta kematian. Sudah menjadi kebiasaan di tanah toraja bahwa setiap tamu akan mendapat daging kerbau. La Dana diberi bagian kaki belakang dari kerbau. Sedangkan kawannya menerima hampir seluruh bagian kerbau itu kecuali bagian kaki belakang. Lalu La Dana mengusulkan pada temannya untuk menggabungkan daging-daging bagian itu dan menukarkannya dengan seekor kerbau hidup. Alasannya adalah mereka dapat memelihara hewan itu sampai gemuk sebelum disembelih. Mereka beruntung karena usulan tersebut diterima oleh tuan rumah.

Seminggu setelah itu La Dana mulai tidak sabar menunggu agar kerbaunya gemuk. Pada suatu hari ia mendatangi rumah temannya, dimana kerbau itu berada, dan berkata “Mari kita potong hewan ini, saya sudah ingin makan dagingnya.” Temannya menjawab, “Tunggulah sampai hewan itu agak gemuk.” Lalu La Dana mengusulkan, “Sebaiknya kita potong saja bagian saya, dan kamu bisa memelihara hewan itu selanjutnya.” Kawannya berpikir, kalau kaki belakang kerbau itu dipotong maka ia akan mati. Lalu kawannya membujuk La Dana agar ia mengurungkan niatnya. Ia menjanjikan La Dana untuk memberinya kaki depan dari kerbau itu.

Seminggu setelah itu La Dana datang lagi dan kembali meminta agar bagiannya dipotong. Sekali lagi kawannya membujuk. Ia dijanjikan bagian badan kerbau itu asal La Dana mau menunda maksudnya. Baru beberapa hari berselang La Dana sudah kembali kerumah temannya. Ia kembali meminta agar hewan itu dipotong.

Kali ini kawannya sudah tidak sabar, dengan marah ia pun berkata, “Kenapa kamu tidak ambil saja kerbau ini sekalian! Dan jangan datang lagi untuk mengganggu saya.” La dana pun pulang dengan gembiranya sambil membawa seekor kerbau gemuk.


Read Full Post »

Older Posts »