Feeds:
Pos
Komentar

Presentasi cerpen

Presentasi Cerpen

Pantun XA Dwiwarna

Zulfikar

Warna merah lambang keberanian

Badan gemuk dan tinngi pasti kuat

Warna hijau lambang kesuburan

Arya gemuk dan tinggi pasti hebat

Rahmatia

Biar jelek bajuku ini

Tidak kujemur sembarang tempat

Biar simpel temanku ini

Tapi kerja kerasnya sangat kuat

Ibrahim

Jalan-jalan ke kota Jakarta

Jangan lupa mampir ke Monas

Fahri siswa SMA Dwiwarna

Kelakuan kayak Abu Nawas

Elisa

Pempek makanan Sumatra selatan

Di sana gadisnya cantik jelita

Rizha cantik dari Jakarta selatan

Di Dwiwarna Bintang yang punya

Rizha

Ada anak suka bercerita

Senang sekali berburu kuskus

Arnia ramah nan cantik jelita

Selalu mendapat nilai yang bagus

Arnia

Rahmatia waita puarada

Asalnya dari kaimana

Orangnya sungguh baik hati

Tak banyak omong dan selalu ceria

Hurfi

Jalan-jalan ke Dwiwarna

Jangan lupa singgah ke Bangkok

Ibrahim dari kaimana

Suka sekali ayam Bangkok

Arya

Hurfi kelas 10 A

Berasal dari Kaimana

Hurfi ternyata hina

Siapa yang nyangka

Fadel

Indonesia itu negara maju

Tapi banyak bencana disana

Si hurfi rambutnya maju

Dia berasal dari Kaimana

oleh A.M. Raihan R.

Saudara-saudara sekalian!

Dengan memperingati Pendidikan Nasional semoga kita lebih semangat/bangkit untuk memajukan dan mencerdaskan pendidikan anak-anak bangsa agar berguna bagi bangsa, Negara dan Agama.

Pertambahan anak umur sekolah yang cepat dan pertambahan lulusan tiap jenjang pendidikan yang besar, tapi tidak diikuti penambahan prasarana dan sarana pendidikan yang cepat dan memadai, menimbulkan masalah bagi pemerintah untuk memberikan “pendidikan dan pengajaran” pada semua warga Negara sebagaimana diamanatkan oleh undang- undang Dasar.
Persoalan ini krusial mengingat beragamanya geografis nusantara yang luas dan terpencar dengan tingkat perkembangan sosial-ekonomi-kultural berbeda. Ketika itu untuk pertama kali pelaksanakan REPELITA dengan tekanan pada pembangunan ekonomi yang dipandang sebagai landasan bagi aspek- aspek lain dari pembangunan nasional. Dalam pembaruan pendidikan perhatian difokuskan pada upaya-upaya perbaikan dan peningkatan kualitas serta penataan kesempatan mendapat pendidikan. Mengenai yang terakhir ini sulitlah dicapai bila hanya melalui cara-cara konvesial yaitu memanfaatkan teknologi komunikasi dan teknologi, informasi radio dan televisi. Pada tahun 2007 pemerintah telah menetapkan APBN untuk pendidikan sebesar 20% bagi SD, SLTP dan SLTA. Program dan kegiatan yang dilakukan tidak semata-mata atas dasar pertambahan jumlah gedung sekolah, guru, buku dan lain-lain.

Ki Hajar Dewantara (1889-1959) seorang tokoh pendidikan Indonesia yang memprokarsai berdirinya lembaga pendidikan Taman siswa. Dia lebih terkenal dengan filsafat” tut wuri handayani, hing madya mangun karsa, hing ngarso sung tulada. Dewantara mengklasifikasikan tujuan pandidikan dengan istilah “ tri-nga”(tiga “nga-nga adalah huruf terakhir dalam abjad jawa ajisak). “Nga” pertama adalah ngerti” (memahami /aspek intelektual). “Nga kedua” adalah “ngrasa” adalah (merasakan aspek afeksi), dan “nga” ketiga adalah “nglakonin” (mengajarkan atau aspek psikomotorik). Merumuskan tujuan pendidikan yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Menurut Dewantara, adalah hak tiap orang untuk mengatur diri sendiri, oleh karena itu pengajaran harus mendidik anak menjadi manusia yang merdeka batin, pikiran, dan tenaga. Pengajaran jangan terlampau mengutamakan kecerdasan pikiran karena hal itu dapat memisahkan orang tepelajar dengan rakyat.
Akhir sampai disini, semoga bangsa Indonesia lebih meningkatkan dan mencerdaskan serta menciptakan anak-anak didik yang produktif, kreatif, dan inovatif yang berguna bagi bangsa dan Negara, Menciptakan sumberdaya manusia yang berkualitas dan mandiri yang dapat memenuhi kebutuhan global

Oleh A. M. Raihan

Pada hari Kamis, saya berkesempatan untuk mewawancarai ibu Euis Tresna, Wakil Kepala Sekolah bid. Kurikulum SMA Dwiwarna mengenai “Kunjungan Siswa Morioka Jepang ke SMA Dwiwarna Boarding School pada tanggal 24-27 Maret 2009”. Menurut beliau kunjungan ini sangat baik bagi anak-anak. Hal ini diakuinya terlihat dari antusiasme anak-anak dalam menyambut kegiatan kunjungan ini. Yang pasti, beliau sebagai pembimbing, mengaku sangat puas dengan penampilan, dan sambutan anak-anak SMA Dwiwarna. “Anak-anak kita mampu tampil sangat prima meskipun hanya melakukan latihan dalam waktu yang singkat”, kata Euis Tresna. Menurut beliau, kedatangan siswa Morioka ini, dapat melatih siswa SMA Dwiwarna untuk semakin memperlancar bahasa Inggris mereka.

Menurut Ibu Euis Tresna, meskipun anak-anak SMA Dwiwarna dapat menyambut tamu tersebut dengan baik, tetapi bukan berarti acara penyambutan ini tanpa kekurangan, “Kegiatan ini cukup menggangu jam pelajaran anak-anak dan aktifitas anak-anak, persiapan yang sedikit telat membuat acara ini masih perlu dibenahi lagi ke depannya”, begitu kata wakil kepala sekolah bid. Kurikulum SMA Dwiwarna ini. Menurut beliau, siswa Jepang yang datang ke SMA Dwiwarna terlihat senang dengan penyambutan siswa SMA Dwiwarna. Ini terlihat dengan antusiasme mereka untuk mengikuti seluruh susunan acara yang telah dipersiapkan.

“Kedatangan siswa Jepang ke sekolah kita dapat semakin meningkatkan motivasi anak-anak untuk lebih banyak tahu tentang negara Jepang, karena Jepang adalah sebuah negara yang sangat membiasakan para penduduknya untuk lebih disiplin, rapih, dan saling menghormati satu sama lain”, kata Ibu Euis Tresna. Kedatangan siswa Jepang ke SMA Dwiwarna menurutnya, dapat dijadikan sebagai salah satu wadah bagi para siswa dan guru-guru untuk menunjukkan keindonesiaan mereka terhadap tamunya tersebut. Hal ini ditunjukkan pada saat acara makan malam bersama, para siswa dan guru-guru memakai batik yang merupakan ciri khas tekstil Indonesia. “Mereka terlihat sangat antusias untuk menunjukkan keindonesiaan mereka, banyak anak-anak dari kita, rela membeli batik baru hanya untuk menyambut saudara mereka dari Jepang itu. Sekaligus menunjukkan keindonesiaan mereka”, begitu kata Inu Euis Tresna. Setelah itu, sebagai penutup acara perpisahan pun diselenggarakan di aula pada hari Jumat.

oleh Fathia dan Shirine

Menurut Ade Meutia Sutikno (siswi kelas 2), FDW (Festifal Dwiwarna) adalah sebuah event yang merupakan ajang milik 2 angkatan yang diadakan setiap tahun. Kegiatan ini bertujuan untuk mempererat hubungan antarsekolah dan setiap siswa-siswi di Dwiwarna.

Untuk tahun ini FDW  berjudul “EUPHORIA” Event of Sports and Arts by Unity of Dwiwarna yang bertema “Two Fingers Up for Peace”.  FDW tahun ini akan mengadakan DW Cup akan dilaksanakan pada tanggal 9-14 februari 2009 dan pada puncak acara yaitu tanggal 14 februari akan dilaksanakan pentas seni di Gor Pajajaran Bogor, akan di meriahkan oleh Nidji dan Netral. Sejauh ini persiapan sudah 97% dan juga sudah ada pengamanan dari kepolisian . Semua anggota FDW sangat berperan penting dalam kegiatan ini. Peran saya adalah sebagai ketua FDW tahun ini. Perasan saya sangat bangga dan sedikit deg-degan menjelang FDW, saya berharap untuk FDW tahun ini akan sukses dan untuk tahun depan semoga akan lebih baik .

Menurut Raihan (siswa kelas 1), FDW adalah acara 2 angkatan untuk menghibur diri. Tujuannya untuk mempererat hubungan siswa-siswi Dwiwarna itu sendiri. ”Setahu saya tema FDW tahun ini “EUPHORIA” yang akan dilaksanakan tanggal 9-14 februari 2009, saya kurang tahu sudah sejauh apa persiapan FDW tahun ini . Menurut saya yang berperan penting itu saya, peran saya adalah sebagai seksi Basket putra. Perasaan saya menjelang FDW biasa saja, di samping itu saya sedikit kesal karena Rocket Rockers tidak jadi ditampilkan dalam pentas seni (pensi). Harapan saya untuk tahun depan pasti sukses dan saya berharap menjadi ketua FDW tahun depan.

Menurut Mr. Kumbang (nama disamarkan) semua siswa-siswi sangat berperan penting. Perasaan saya menjelang FDW hanya penasaran bagaimana siswa-siswi kami menyiapkan segala hal dan harapan saya untuk tahun ini agar sukses dan untuk tahun depan untuk lebih sukses dan belajar mempersiapkannya dari sekarang .

oleh Fitrian Muhammad Oddang, Kevin Pradana dan Brama Putra Sriyatno

Ketika kita mendengar kata belajar mungkin sosok pelajarlah yang terbersit di benak kita semua. Seperti apa belajar menurut Anda? Tentunya kita semua memiliki persepsi yang berbeda entah menyenangkan atau mungkin menyebalkan.

Begitu pentingnya belajar bagi kita, di mana pun dan kapan pun. Banyak sekolah-sekolah yang menyediakan fasilitas pendidikan formal baik dari tingkat dasar hingga tingkat atas. Salah satu dari penyedia fasilitas itu adalah SMA Dwiwarna. Seperti apa nuansa belajar di sana dan sudahkah belajar dengan efektif semua akan dibahas di sini.

Berkenaan dengan hal tersebut kami berhasil mewawancarai beberapa narasumber yaitu Ibu Euis Tresna sebagai salah satu staf pendidik dan Rini Mayasari selaku siswa. Berikut adalah kutipan wawancara dengan Ibu Euis.

1.    Menurut Anda seperti apa belajar efektif itu?
Belajar yang efektif adalah belajar yang mampu mengoptimalkan pencapaian target belajar, baik akademis maupun kepribadian. Jadi, dengan waktu yang ada dan tersedia, target-target itu harus bias dicapai dengn memaksimalkan segala instrumen-instrumen pendidikan dan belajar.

2.   Apa saja yang harus dioptimalkan dan dimaksimalkan dalam belajar?
Pertama adalah persiapan guru pengajar dan siswa itu sendiri. Jadi, untuk setiap guru yang akan mengajar sebaiknya telah menyiapkan dan menguasai materi yang akan disampaikan dengan baik, sehingga apa yang disampaikan pada siswa menjadi lebih focus, terarah, dan mudah dipahami. Kemudian untuk siswa harus bisa mengoptimalkan segala alat Bantu belajar sehingga apa yang telah disampaikan oleh para pengajar dapat dengan mudah dicerna dan diingat.

3. Adakah perubahan yang Anda rasakan di semester 2 ini pada kegiatan belajar mengajar?
Sebenarnya ada perubahan yang mungkin ada kaitannya dengan kegiatan Festival Dwiwarna (FDW) 2009 ini yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Hal ini jelas mengganggu, menurut saya pribadi terutama sangat mengganggu dan merugikan waktu belajar siswa.

4.  Perubahan seperti apa yang terjadi dan bagaimana dampaknya?
Tentunya perubahan terlihat pada suasana belajar mengajar di kelas dengan segala kesibukan menjelang kegiatan FDW mendatang. Banyak sekali siswa yang tidak mengikuti jam pelajaran karena sangat sibuk dalam kegiatan kepanitiaan. Hal ini rutin terjadi menjelang pelaksanaan kegiatan FDW pada setiap tahunnya. Dampak dari siswa yang meninggalkan jam pelajaran tentunya adalah siswa itu sendiri akan tertinggal materi pembelajaran, sebagai konsekuensinya siswa yang bersangkutan harus mengejar ketertinggalannya secara mandiri maupun tambahan di luar jam pelajaran yang disediakan sekolah.

5.  Jadi menurut Anda kegiatan FDW mengganggu efektivitas belajar siswa?
Iya, benar sekali. Dengan banyaknya siswa yang keluar jam pelajaran terutama kelas 2 tentunya sangat mengganggu proses pembelajaran namun di satu sisi dengan adanya kegiatan FDW siswa bisa memperoleh pengalaman berorganisasi yang sangat bermanfaat. Sebagai pelajar, prestasi akademik memang sangat penting namun sebuah pengalaman organisasi seperti ini tidakklah kalah penting. Kemampuan organisasi dan prestasi akademik harus seimbang jadi pintar saja tidaklah cukup, harus diimbangi dengan kemampuan leadership sehingga akan lebih leluasa dalam mengimplementasikan ide-ide yang ada.

6.  Bagaimana perbandingan kurva prestasi akademik siswa pada semester 1 dan 2?
Secara umum mgrafik prestasi akademik siswa di semester 2 untuk kelas 1 dan 2 memang agak menurun bila dibandingkan dengan semester sebelumnya walaupun ada juga beberapa siswa yang menunjukkan grafik yang tetap stabil. Intinya walau banyak aktivitas prestasi belajar siswa haruslah tetap dijaga.

7.  Apa saran Anda agar belajar tetap efektif walau penuh aktivitas?
Sebagai seorang siswa tentunya skala prioritas sangatlah penting, setiap siswa harus memiliki skala prioritas yang baik untu belajar. Selain itu pengaturan konsentrasi juga sangat penting apa lagi bagi para siswa yang telah menginjak remaja. Karena perasaan suka terhadap lawan jenis biasanya bisa mengganggu konsentrasi siswa dalam belajar. Intinya jadikanlah belajar pada skala prioritas yang paling atas.

Demikianlah hasil wawancara dengan Ibu Euis Tresna, cukup banyak informasi yang bisa kita ambil dari wawancara tersebut mengenai belajar mengajar di SMA Dwiwarna. Berikut adalah hasil wawancara kepada salah satu siswa yaitu Rini Mayasari siwa kelas 2.

1.  Apakah menurut Anda proses belajar mengajar di semester 2 ini sudah efektif?
Menurut saya pembagian jadwalnya masih belum efektif terutama waktu hari Jum’at. Hari Jum’at itu jam olahraga paginya sangat membuang waktu, kenapa tidak dimanfaatkan saja untuk belajar. Tentunya hal itu akan lebih baik bila dibandingkan berolahraga berlama-lama namun pada akhirnya banyak siswa yang tidak hadir pada jam olahragaitu. Sebaiknya jam olahraga pagi ditiadakan saja atau dikurangi waktunya.

2. Menurut Anda apakah dengan adanya kegiatan FDW di semester 2 ini mengganggu kegiatan belajar?
Menurut saya pribadi tidak terlalu mengganggu untuk saya karena saya sendiri jarang untuk keluar kelas dan meninggalkan jam pelajaran. Mungkin karena jabatan kepanitiaan saya tidak terlalu sibuk bekerja sehingga tak terlalu mengganggu untuk saya. Tetapi saya merasa belajar jadi kurang efektif karena walau hanya sebentar meninggalkan jam belajar, sangat berpengaruh sekali. Selain itu akibat banyak siswa lain yang keluar jam pelajaran gurupun jadi agak tak bersemangat dalam belajar sehingga belajar jadi kurang efektif.

3.  Apa saran Anda agar belajar menjadi lebih efektif?
Saran saya agar belajar menjadi efektif adalah dengan penambahan jam di luar jam belajar setelah kegiatan FDW usai sehingga materi pembelajaran yang tertinggal dapat segera dikejar dan dikuasai siswa. Selain itu pengelompokan siswa secara homogen itu sangat penting untuk menambah keefektifan dalam belajar mengajar dengan demikian materi yang diajarkan akan efektif diserap siswa karena siswa twlah dikelompokkan sesuai dengan kemampuan dan potensinya masing-masing.

Sungguh luar biasa apa yang diuraikan dan dijelaskan oleh para narasumber kita. Banyak manfaat dan informasi yang bisa kita ambil darinya, terutama bagi kami sebagai tim pewawancara. Masih banyak kekurangan di sana sini dalam teknik wawancara dan penyusunan laporan, kami harus lebih banyak belajar lagi dan dimohon saran dari Anda sekalian yang telah membaca hasil laporan kami ini. Terimakasih kami ucapkan kepada guru pembimbing dan narasumber yang telah banyak membantu demi kerampungan laporan ini.

Beberapa gambar dari dokumenter kami ketika kami melakukan wawancara :

wawancara dengan bu ET (Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum)

wawancara dengan bu ET (Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum)

bu ET sedang diwawancarai

wawancara dengan Rini Mayasari (siswa kelas XI SMA Dwiwarna)

wawancara dengan Rini Mayasari (siswa kelas XI SMA Dwiwarna)

Rini Mayasari sedang dwiwawancarai

Rini Mayasari sedang dwiwawancarai

Kantin Dwiwarna

oleh Arista Dhaivina dan Yudith Yolanda Matindas

Setiap sekolah biasanya memiliki sebuah kantin, mungkin kantin Dwiwarna sedikit berbeda dari kantin sekolah-sekolah lain, karena Dwiwarna adalah sekolah berasrama dan kantin harus melayani siswa seharian penuh mulai dari pagi, siang, sampai malam.

Kantin Dwiwarna didirikan pada tahun 2000 dan diambil alih oleh yayasan sekolah pada tahun 2001, sebagai tempat untuk menyiapkan makanan bagi siswa-siswi dan seluruh civitas Dwiwarna. Para siswa-siswi biasanya makan di kantin 3 kali dalam satu hari, yaitu pada pagi hari pukul 05.30-06.30, siang 13.15-1450, dan malam pukul 08.00-08.30, sedangkan beberapa civitas Dwiwarna, hanya makan pada siang hari. Siswa putra biasa makan di kantin besar, sedangkan siswi putri makan malam di pendopo. Pengaturan menu biasa diatur oleh Ibu Sitti dan dibantu dengan cook dan ascook.

Seorang Psikolog SMA Dwiwarna, berpendapat “kantin Dwiwarna adalah tempat yang melayani civitas Dwiwarna untuk sarapan pagi, makan siang dan makan malam.” Menurut beliau kantin Dwiwarna didirikan adalah sebagai fasilitas yang melengkapi pelayanan terhadap pendidikan di sekolah. Beliau berpendapat tentang kantin SMA Dwiwarna, menurutnya “kantin Dwiwarna sudah baik tetapi masih kurang exellent, minuman yang disajikan kalau bisa jangan air teh karena akan menghambat penyerapan zat besi, selain itu penggantian kursi dengan bahan kain justru jadi banyak bulu kucing yang menempel”. Bu Tynsusi memberikan saran untuk kantin Dwiwarna “Sebaiknya bahan kursi dapat diganti, dan teh tidak baik disajikan dengan makanan berat”. Beberapa siswa-siswi SMA Dwiwarna juga berpendapat yang sama.