Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Raihan’

oleh A.M. Raihan R.

Saudara-saudara sekalian!

Dengan memperingati Pendidikan Nasional semoga kita lebih semangat/bangkit untuk memajukan dan mencerdaskan pendidikan anak-anak bangsa agar berguna bagi bangsa, Negara dan Agama.

Pertambahan anak umur sekolah yang cepat dan pertambahan lulusan tiap jenjang pendidikan yang besar, tapi tidak diikuti penambahan prasarana dan sarana pendidikan yang cepat dan memadai, menimbulkan masalah bagi pemerintah untuk memberikan “pendidikan dan pengajaran” pada semua warga Negara sebagaimana diamanatkan oleh undang- undang Dasar.
Persoalan ini krusial mengingat beragamanya geografis nusantara yang luas dan terpencar dengan tingkat perkembangan sosial-ekonomi-kultural berbeda. Ketika itu untuk pertama kali pelaksanakan REPELITA dengan tekanan pada pembangunan ekonomi yang dipandang sebagai landasan bagi aspek- aspek lain dari pembangunan nasional. Dalam pembaruan pendidikan perhatian difokuskan pada upaya-upaya perbaikan dan peningkatan kualitas serta penataan kesempatan mendapat pendidikan. Mengenai yang terakhir ini sulitlah dicapai bila hanya melalui cara-cara konvesial yaitu memanfaatkan teknologi komunikasi dan teknologi, informasi radio dan televisi. Pada tahun 2007 pemerintah telah menetapkan APBN untuk pendidikan sebesar 20% bagi SD, SLTP dan SLTA. Program dan kegiatan yang dilakukan tidak semata-mata atas dasar pertambahan jumlah gedung sekolah, guru, buku dan lain-lain.

Ki Hajar Dewantara (1889-1959) seorang tokoh pendidikan Indonesia yang memprokarsai berdirinya lembaga pendidikan Taman siswa. Dia lebih terkenal dengan filsafat” tut wuri handayani, hing madya mangun karsa, hing ngarso sung tulada. Dewantara mengklasifikasikan tujuan pandidikan dengan istilah “ tri-nga”(tiga “nga-nga adalah huruf terakhir dalam abjad jawa ajisak). “Nga” pertama adalah ngerti” (memahami /aspek intelektual). “Nga kedua” adalah “ngrasa” adalah (merasakan aspek afeksi), dan “nga” ketiga adalah “nglakonin” (mengajarkan atau aspek psikomotorik). Merumuskan tujuan pendidikan yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Menurut Dewantara, adalah hak tiap orang untuk mengatur diri sendiri, oleh karena itu pengajaran harus mendidik anak menjadi manusia yang merdeka batin, pikiran, dan tenaga. Pengajaran jangan terlampau mengutamakan kecerdasan pikiran karena hal itu dapat memisahkan orang tepelajar dengan rakyat.
Akhir sampai disini, semoga bangsa Indonesia lebih meningkatkan dan mencerdaskan serta menciptakan anak-anak didik yang produktif, kreatif, dan inovatif yang berguna bagi bangsa dan Negara, Menciptakan sumberdaya manusia yang berkualitas dan mandiri yang dapat memenuhi kebutuhan global

Iklan

Read Full Post »

Oleh A. M. Raihan

Pada hari Kamis, saya berkesempatan untuk mewawancarai ibu Euis Tresna, Wakil Kepala Sekolah bid. Kurikulum SMA Dwiwarna mengenai “Kunjungan Siswa Morioka Jepang ke SMA Dwiwarna Boarding School pada tanggal 24-27 Maret 2009”. Menurut beliau kunjungan ini sangat baik bagi anak-anak. Hal ini diakuinya terlihat dari antusiasme anak-anak dalam menyambut kegiatan kunjungan ini. Yang pasti, beliau sebagai pembimbing, mengaku sangat puas dengan penampilan, dan sambutan anak-anak SMA Dwiwarna. “Anak-anak kita mampu tampil sangat prima meskipun hanya melakukan latihan dalam waktu yang singkat”, kata Euis Tresna. Menurut beliau, kedatangan siswa Morioka ini, dapat melatih siswa SMA Dwiwarna untuk semakin memperlancar bahasa Inggris mereka.

Menurut Ibu Euis Tresna, meskipun anak-anak SMA Dwiwarna dapat menyambut tamu tersebut dengan baik, tetapi bukan berarti acara penyambutan ini tanpa kekurangan, “Kegiatan ini cukup menggangu jam pelajaran anak-anak dan aktifitas anak-anak, persiapan yang sedikit telat membuat acara ini masih perlu dibenahi lagi ke depannya”, begitu kata wakil kepala sekolah bid. Kurikulum SMA Dwiwarna ini. Menurut beliau, siswa Jepang yang datang ke SMA Dwiwarna terlihat senang dengan penyambutan siswa SMA Dwiwarna. Ini terlihat dengan antusiasme mereka untuk mengikuti seluruh susunan acara yang telah dipersiapkan.

“Kedatangan siswa Jepang ke sekolah kita dapat semakin meningkatkan motivasi anak-anak untuk lebih banyak tahu tentang negara Jepang, karena Jepang adalah sebuah negara yang sangat membiasakan para penduduknya untuk lebih disiplin, rapih, dan saling menghormati satu sama lain”, kata Ibu Euis Tresna. Kedatangan siswa Jepang ke SMA Dwiwarna menurutnya, dapat dijadikan sebagai salah satu wadah bagi para siswa dan guru-guru untuk menunjukkan keindonesiaan mereka terhadap tamunya tersebut. Hal ini ditunjukkan pada saat acara makan malam bersama, para siswa dan guru-guru memakai batik yang merupakan ciri khas tekstil Indonesia. “Mereka terlihat sangat antusias untuk menunjukkan keindonesiaan mereka, banyak anak-anak dari kita, rela membeli batik baru hanya untuk menyambut saudara mereka dari Jepang itu. Sekaligus menunjukkan keindonesiaan mereka”, begitu kata Inu Euis Tresna. Setelah itu, sebagai penutup acara perpisahan pun diselenggarakan di aula pada hari Jumat.

Read Full Post »

oleh Fathia dan Shirine

Menurut Ade Meutia Sutikno (siswi kelas 2), FDW (Festifal Dwiwarna) adalah sebuah event yang merupakan ajang milik 2 angkatan yang diadakan setiap tahun. Kegiatan ini bertujuan untuk mempererat hubungan antarsekolah dan setiap siswa-siswi di Dwiwarna.

Untuk tahun ini FDW  berjudul “EUPHORIA” Event of Sports and Arts by Unity of Dwiwarna yang bertema “Two Fingers Up for Peace”.  FDW tahun ini akan mengadakan DW Cup akan dilaksanakan pada tanggal 9-14 februari 2009 dan pada puncak acara yaitu tanggal 14 februari akan dilaksanakan pentas seni di Gor Pajajaran Bogor, akan di meriahkan oleh Nidji dan Netral. Sejauh ini persiapan sudah 97% dan juga sudah ada pengamanan dari kepolisian . Semua anggota FDW sangat berperan penting dalam kegiatan ini. Peran saya adalah sebagai ketua FDW tahun ini. Perasan saya sangat bangga dan sedikit deg-degan menjelang FDW, saya berharap untuk FDW tahun ini akan sukses dan untuk tahun depan semoga akan lebih baik .

Menurut Raihan (siswa kelas 1), FDW adalah acara 2 angkatan untuk menghibur diri. Tujuannya untuk mempererat hubungan siswa-siswi Dwiwarna itu sendiri. ”Setahu saya tema FDW tahun ini “EUPHORIA” yang akan dilaksanakan tanggal 9-14 februari 2009, saya kurang tahu sudah sejauh apa persiapan FDW tahun ini . Menurut saya yang berperan penting itu saya, peran saya adalah sebagai seksi Basket putra. Perasaan saya menjelang FDW biasa saja, di samping itu saya sedikit kesal karena Rocket Rockers tidak jadi ditampilkan dalam pentas seni (pensi). Harapan saya untuk tahun depan pasti sukses dan saya berharap menjadi ketua FDW tahun depan.

Menurut Mr. Kumbang (nama disamarkan) semua siswa-siswi sangat berperan penting. Perasaan saya menjelang FDW hanya penasaran bagaimana siswa-siswi kami menyiapkan segala hal dan harapan saya untuk tahun ini agar sukses dan untuk tahun depan untuk lebih sukses dan belajar mempersiapkannya dari sekarang .

Read Full Post »

oleh A.M.Raihan.R

Bukan Pasar Malam adalah sebuah novel yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer dan diterbitkan oleh Balai Pustaka, tahun 1951. Novel ini ditulis setelah lima tahun Indonesia merdeka. Tentu saja, kondisi atau situasi sosial dan ekonomi masyarakat waktu itu sedikit banyaknya akan mempengaruhi dan tergambar dalam karyanya itu. Informasi yang berkenaan dengan waktu novel itu ditulis menjadi penting, untuk dapat memberikan penafsiran yang sebaik mungkin berkenaan dengan judul di atas.
Ada dua hal penting yang dapat diambil dan digambarkan dalam Bukan Pasar Malam ini. Kedua hal itu sangat ditentukan oleh dua tokoh yang ada dalam cerita, yaitu tokoh Aku dan tokoh Bapak. Semula, terkesan agak sulit untuk menentukan siapa yang sebenarnya menjadi tokoh utama, karena dari beberapa bagian, tokoh Bapak mempunyai waktu penceritaan yang panjang. Bahkan, dapat dikatakan bahwa novel itu, sebenarnya, bercerita tentang tokoh Bapak. Pada pihak lain, tokoh Aku juga hadir sepanjang penceritaan. Dengan demikian, dapat disimpulkan, bahwa tokoh utama dalam novel ini adalah tokoh Aku dan tokoh Bapak, tetapi, tokoh Aku juga bertindak sebagai tokoh antagonis.
Tokoh Aku sebagai protagonis dan antagonis sangat mendukung penafsiran, bahwa Bukan Pasar Malam menggambarkan kesedihan dan penyesalan seorang anak yang telah jauh lari dari orang tuanya (tokoh Bapak). Jauh lari di sini mempunyai banyak makna, meliputi lari secara fisik dan lari secara moral. Secara fisik, tokoh Aku tinggal berjauhan dari orang tuanya. Tokoh Aku sudah lama tinggal di Jakarta, hampir 25 tahun dan selama itu tidak pernah pulang kampung. Sementara, ayahnya (tokoh Bapak) bersama dengan kakak dan adiknya tinggal di Blora, kampung halaman mereka. Secara moral, tokoh Aku berseberangan dengan ayahnya (tokoh Bapak). Mereka berbeda paham, terutama dalam hal agama dan ideologi. Tokoh Bapak (ayah) adalah seorang Islam dan anak seorang ulama, tetapi mengabdikan diri sebagai seorang pendidik (nasionalis). Sementara, tokoh Aku tidak mengaku sebagai seorang Islam dan cenderung kepada ‘pasukan merah’.
Perbedaan-perbedaan yang ada antara kedua ayah dan anak itu telah membuat keduanya ‘menderita’ secara batin. Si ayah (tokoh Bapak) sangat menginginkan anaknya kembali, baik secara fisik maupun secara moral. Keadaan itu dapat dilihat pada bagian awal cerita, yaitu dari isi surat tokoh Bapak yang diterima oleh tokoh Aku. Tokoh Bapak sangat mengharapkan anaknya ‘kembali’, seperti kutipan ini: “…Di dunia ini tak ada suatu kegirangan yang lebih besar daripada kegirangan seorang bapak yang mendapatkan anaknya kembali, anaknja yang tertua, pembawa kebesaran dan kemegahan bapak….”. Isi surat itu dan surat yang dikirimkan pamannya kemudian yang memberitahukan keadaan ayahnya yang sedang sakit parah, membuat tokoh Aku merasa sedih dan menyesal sekali.
Perasaan sedih dan menyesal itulah yang membawa dia pulang ke Blora, artinya kembali secara fisik, tetapi tidak secara moral. Kembali dalam pengertian kedua tidak dapat dilakukannya, karena ia sadar bahwa manusia itu lahir sendiri, hidup sendiri, dan mati sendiri. Jadi, masing-masing orang mempunyai cara dan jalan hidup sendiri-sendiri pula. Itu pulalah makna yang dapat diberikan terhadap judul novel ini, Bukan Pasar Malam. Jadi, manusia itu hidup tidak seperti di pasar malam, yang selalu ramai, tetapi manusia itu lahir, hidup, dan mati sendiri-sendiri. Ia tidak harus sama dengan orang lain dalam segala hal, termasuk tidak harus sama dengan apa yang diharapkan oleh ayah dan keluarganya yang lain.
Pada pihak lain, tokoh Bapak sebagai tokoh protagonis kedua yang diceritakan oleh tokoh Aku, menggambarkan ironi seorang pejuang, ironi seorang nasionalis. Ironi yang dimaksudkan di sini adalah suatu keadaan atau situasi yang dialami oleh seseorang yang bertentangan atau berlawanan dengan keadaan yang semestinya dialaminya, karena suratan takdir. Semestinya, seorang pejuang, seorang pendidik, seorang nasionalis, akan memperoleh perlakuan terhormat dan kedudukan yang lebih baik, baik secara materi maupun kepangkatan, dalam masyarakat dan pemerintahan.
Hal itulah yang seharusnya dialami oleh tokoh Bapak, setelah kemerdekaan dicapai. Namun, kenyataannya, tokoh Aku sebagai seorang pejuang (nasioanalis) telah membuat dia dan keluarganya menderita. Keluarganya tetap miskin, tinggal di rumah yang hampir runtuh. Dia dan anaknya menderita sakit TBC, tetapi tidak mendapat perawatan yang layak, karena tidak mempunyai cukup uang untuk berobat di sanatorium. Ia telah mengorbankan keluarganya demi memperjuangkan bangsanya. Akan tetapi, apa yang dia peroleh ketika bangsa itu telah merdeka. Tidak ada, kecuali hanya kekecewaan, yang kemudian menyebabkan dia menjadi seorang pejudi yang hebat dan akhirnya menderita sakit tbc. Adakah pemerintah atau teman-teman seperjuangannya dulu memperhatikannya. Tidak ada, tidak seorang pun, sampai akhirnya dia meninggal. Di situlah, ironisnya hidup yang dialami oleh tokoh bapak, seorang pejuang (nasionalis).
Keadaan yang dialami oleh tokoh bapak di atas, memperkuat makna yang terkandung dalam judul novel Bukan Pasar Malam ini; bahwa manusia itu lahir sendiri, hidup sendiri, berjuang sendiri, senang sendiri, sakit sendiri, dan pada akhirnya mati sendiri. Itu semua karena dunia ini bukan pasar malam.

Read Full Post »