oleh Raihan
Juli 2007, kantor ayah saya berkabung. Salah satu direksi di kantor ayah saya meninggal dunia. Sesuai dengan peraturan pemerintah mengenai hal ini, maka harus segera dicarikan penggantinya dalam kurun waktu 30 hari. Ditunjuklah ayah saya dan dua orang kandidat lainnya untuk menjadi calon penggantinya. Berhubung pada saat itu akan diadakan pemilihan kepala daerah, maka pemilihan direksi itu sarat akan adanya kepentingan politik. Akhirnya diadakanlah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Dari 30 pemegang saham, ayah saya dipilih oleh 14 pemegang saham. Tahap RUPS ini hanyalah untuk menciutkan 3 calon menjadi 2 calon untuk melaksanakan verifikasi oleh Bank Indonesia. Atas kehendak Allah SWT, di depan petinggi Bank Indonesia, ayah saya dinyatakan mampu untuk mengemban tugas tersebut. Sekaligus menetapkan ayah saya sebagai direksi bank tersebut.
Tetapi tidak sampai disitu saja, pelantikan ayah saya terus menerus ditunda oleh gubernur yang juga mendukung calon lain. Lalu, calon yang juga ikut verifikasi di Bank Indonesia akhirnya wafat karena sakit jantung. Pada saat itu keluarga saya dihadapkan dengan permasalahan yang cukup berat. Ayah saya bahkan dituduh menggunakan ilmu hitam untuk membunuh calon yang wafat itu. Waktu terus berjalan dengan cobaan-cobaan yang tiada henti yang keluarga saya alami sekitar 2 bulan.
Akhirnya pada tanggal 12 Desember 2007, ayah saya pun diambil sumpahnya untuk menjadi direktur pemasaran dan keuangan pada bank tempat ayah saya bekerja. Hingga sekarang ini, ayah saya masih menjabat di posisi tersebut. Namun, menurut ayah saya, dia tidak mau terlena dengan semua yang telah ia capai selama ini. Ia mengaku kehidupan keluarga kami saat ini sudah lebih dari cukup, sehingga kita harus selalu berterimakasih kepada Allah SWT atas apa yang telah ia berikan selama ini.
Beginilah cara saya mempresentasikan kisah hidup ayah saya dan keluarga saya. Kisah ini sangatlah memberikan banyak pelajaran berharga bagi saya, yakni jika kita berada dalam posisi benar. Jangan sekali-kali kita takut akan cobaan-cobaan yang kita dapatkan. Selain itu, kisah ini juga mengajarkan saya untuk kita harus selalu mensyukuri apa yang kita dapatkan. Hal inilah yang saya sangat tanamkan pada diri saya.